Pintu kamar terbuka perlahan. Rumi masuk dengan langkah ringan, wajahnya masih menyisakan binar riang sisa obrolan dengan Zefanya tadi. Namun, senyum itu seketika luntur saat matanya tertumbuk pada gundukan besar di tengah ranjang king size mereka. Hari masih siang tapi Jagad tadi sengaja menutup semua gordyn sehingga kamar hanya menyisakan cahaya temaram dari lampu tidur di nakas. Di kasur itu, Jagad berbaring dengan tubuhnya meringkuk dalam seperti bayi dalam rahim, terkubur di bawah selimut tebal yang ditarik hingga sebatas dagu. Hanya menyisakan hidung, mata dan kening yang terlihat. "Jagad? Eh, kamu sudah pulang ternyata.” Kata Rumi riang, segera mendekati ranjang. “Loh kamu kenapa kok tumben pakai kaos tebal gini? Selimut juga sampai dagu,” suara Rumi terdengar khawatir. Dia melet

