Mendengar pertanyaan Naura, perasaan Bram tersentak. Dia sudah kehilangan sosok Naura yang biasanya. Naura yang selalu ceria, dan hangat, sekarang sudah tidak bisa dia temui. Bram bahkan merasa kalau yang di hadapannya merupakan wanita yang berbeda. Tapi jelas, tidak ada perubahan yang terjadi tanpa sebab. Dia yang sudah membuat Naura menjadi seperti ini. Seharusnya, dia tidak pernah membuat wanita di hadapannya itu kecewa. Sayang, semua sudah terlanjur terjadi. Dia terlambat. Bram menatap Naura dengan tatapan lembut. Matanya perlahan memerah, dan berkaca-kaca. Dia teringat tentang semua kesalahan yang sudah dilakukannya selama ini. Sementara Naura, dia memilih untuk memalingkan pandangan ke arah lain. Dia juga sakit mengingat semua yang sudah terjadi di antara mereka. "Naura, saya d