Rendi belum sempat menyelesaikan kalimat itu. Pintu ruang tamu tiba-tiba diketuk keras dari luar—tiga kali, cepat, mendesak. BRAK. BRAK. BRAK. Alena langsung tersentak, jantungnya menghentak ke tenggorokan. Rendi spontan menoleh ke arah pintu, tubuhnya menegang. Ia memberi isyarat dengan tatapan agar Alena tidak bersuara. Ketukan kedua menyusul. Lebih keras. “Rendi?” Suara perempuan. Tenang, tapi ada getaran samar di ujungnya. “Kamu di dalam?” Alena mengenali suara itu meski samar. Cindy. Rendi mengumpat pelan tanpa suara dan bergerak cepat menuju jendela kecil di samping pintu, mengintip lewat celah gorden. “Dia sendirian?” bisik Alena, suara nyaris tak terdengar. Rendi tidak menjawab segera. Matanya menyipit. “Mobilnya di depan. Tapi…” Ia mengembuskan napas berat. “Ada mobil l

