Ruang tamu mendadak sangat sunyi setelah ucapan Cindy yang terakhir. Rendi tidak langsung menanggapi. Nafasnya terdengar berat—bukan marah, tapi terkejut sekaligus berusaha tetap tenang. Alena berdiri tepat di belakang pintu kamar, memegang gagang pintu dengan tangan gemetar. Kata-kata Cindy barusan seperti pukulan keras di dadanya. “Seharusnya memang tidak selamat malam itu.” Rendi menggerakkan kursi, bunyinya menyeret lantai. “Apa maksudmu?” suaranya rendah, terkontrol. Cindy duduk. Bajunya masih basah oleh keringat. Rambutnya berantakan seperti habis berlari. “Ada seseorang yang datang ke rumahku tiga hari lalu.” Cindy menunduk, menatap telapak tangannya yang saling menggenggam. “Aku kira debt collector. Atau orang iseng. Tapi… dia langsung menyebut nama Alena.” Rendi mengeras.

