Lift kargo menurun perlahan, berguncang di setiap lantai. Alena memeluk Rendi yang masih lemah, matanya waspada ke arah panel pintu. Setiap hentakan mekanik terdengar seperti gema kematian dari atas, mengingatkan bahwa Ghostline masih memburu mereka. “Lo baik-baik aja?” tanya Alena, napasnya berat. Rendi mengangguk pelan. “Gue… bisa gerak. Tapi lo harus janji satu hal.” Alena mengerutkan dahi. “Apa?” “Lo jangan… tinggalkan gue lagi. Sekali lagi.” Alena menatap Rendi dalam beberapa detik, lalu tersenyum tipis. “Gak bakal. Tapi lo juga jangan bikin gue mati konyol, oke?” Lift berhenti di level –12, sebuah area mekanik bawah tanah yang hampir menyerupai labirin. Pintu terbuka dengan suara berderak, dan kabut tipis dari uap mesin menambah suasana menakutkan. Lampu merah darurat berkedip

