Malam gelap, hujan turun deras. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu jalan dan sorot gedung yang masih terbakar sebagian. Asap dan puing-puing berterbangan dari gedung yang baru mereka tinggalkan. Alena menatap Rendi, wajahnya basah oleh hujan dan peluh, tapi matanya tetap tegas. “Siap?” tanyanya. Rendi mengangguk, menekan pistol kecil yang baru saja diberikan Alena. “Siap.” Di kejauhan, bayangan Ghostline muncul—tiga sosok hitam, bergerak serentak seperti bayangan mematikan. Helm mereka berkilat di bawah lampu jalan. Mereka tidak hanya mengejar, mereka memburu. Alena menunduk di balik mobil yang terbalik, sementara Rendi meraba-raba tumpukan puing di sampingnya. Mereka harus memanfaatkan semua yang ada—mobil, kontainer, bahkan tiang listrik yang roboh. “Ini nggak akan mudah,” bisik

