Bab 9

1152 Words

Setelah Rendi pergi, rumah itu terasa terlalu sunyi. Langkahnya yang menjauh masih terngiang di telinga Alena, sampai akhirnya bunyi pintu depan tertutup dan meninggalkan keheningan yang aneh. Ia duduk di kursi makan beberapa saat, menatap piring dan gelas yang belum sempat dibereskan. Udara di ruangan terasa hangat tapi kosong. Akhirnya, ia berdiri, membawa semuanya ke dapur kecil di dalam kamar. Air mengalir pelan dari keran, membasahi tangannya. Ia menatap bayangan dirinya di permukaan kaca dapur — wajah pucat, rambut masih agak berantakan, mata sayu. Tidak ada yang terasa familiar, bahkan wajahnya sendiri tampak seperti milik orang lain. “Siapa aku sebenarnya…” gumamnya pelan. Setelah mencuci piring, ia berkeliling kamar. Tempat itu begitu rapi — terlalu rapi, bahkan untuk ukuran

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD