Malam itu Alena tidur dengan posisi miring, membelakangi arah pintu. Ia sudah terlalu lelah, pikirannya kusut sejak kejadian di ruang makan. Entah jam berapa, ia merasa ada sesuatu yang hangat menyentuh pinggangnya. Awalnya ia kira itu hanya mimpi. Tapi rasa hangat itu nyata — kuat, dan beratnya terasa di punggung. Ia membuka mata perlahan. Cahaya dari lampu tidur masih menyala samar, cukup untuk membuatnya sadar kalau seseorang tengah memeluknya dari belakang. Rendi. Tubuhnya menegang. Ia ingin bergerak, tapi tidak tahu harus bagaimana. Napas Rendi terasa di pundaknya, teratur, menandakan pria itu sedang tertidur. “Rendi…?” suaranya pelan, hampir berbisik. Tak ada jawaban. Hanya genggamannya yang makin erat, seolah tak ingin dilepaskan. Alena menarik napas panjang. “Kau… belum tid

