“Aku bilang tutup mulutmu!” Suara Rendi meluncur tajam, memotong udara. Agnes terpaku di tempat, seolah tubuhnya membeku. Wajahnya memucat, tapi matanya tetap menatap Rendi dengan campuran marah dan tidak percaya. Rendi mendekat dengan langkah pelan namun mantap. Aura dingin yang menekan seakan memenuhi ruangan. “Pergi sekarang,” katanya datar, tapi nada suaranya sarat ancaman. “Sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaranku.” Agnes menggigit bibir, matanya mulai berkaca-kaca. “Kau berubah,” gumamnya lirih, hampir seperti tangis yang tertahan. Lalu tanpa menunggu tanggapan, ia berbalik dan berlari menuju pintu. Langkahnya terburu-buru, tumit sepatunya menimbulkan gema pendek di lantai marmer. Tepat sebelum keluar, ia berhenti sejenak, menoleh ke arah Alena yang masih duduk diam di kur

