Malam itu, suasana rumah masih tenang ketika bel pintu tiba-tiba berbunyi nyaring. Suara itu membuat Alena yang sedang duduk di ruang makan menoleh spontan. Bibi Rukmi, yang sedang menata piring, buru-buru melangkah ke arah pintu depan. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah cepat dan nada bicara yang tinggi dari arah ruang tamu. “Pak Rendi belum pulang?” suara perempuan muda terdengar jelas, nada bicaranya tajam dan penuh emosi. “Belum, Nona Agnes. Tuan masih di kantor,” jawab Bibi Rukmi hati-hati. “Bagus! Justru aku pengin ngomong sama istrinya itu.” Bibi Rukmi sempat menahan napas. “Nona… maksudnya—” “Mana dia? Aku tahu dia di rumah!” potong Agnes cepat, lalu melangkah masuk tanpa menunggu diantar. Tumit sepatunya menghentak keras di lantai, menggema ke seluruh ruangan. Alena

