Sore itu, langit mulai memerah ketika Rendi baru saja memarkir mobil di halaman rumah. Udara lembap sisa hujan membuat aroma tanah basah tercium samar. Ia melepas jas kerjanya, lalu menenteng tas laptop sambil berjalan masuk. Di ruang tamu, suara televisi terdengar pelan, menayangkan berita sore. Alena duduk di sofa dengan segelas teh di tangan, rambutnya diikat asal, wajahnya tampak lelah tapi tetap cantik dalam kesederhanaan. “Sudah pulang?” tanyanya tanpa menoleh, suaranya datar tapi tidak dingin. “Sudah,” jawab Rendi pelan. Ia meletakkan tas di meja kecil dekat pintu, lalu menghampiri. “Kamu udah makan?” “Belum. Nunggu kamu.” Rendi mengangguk kecil. Ia duduk di kursi seberang Alena, memperhatikan wajah istrinya yang tampak seperti sedang berpikir keras. “Ada yang kamu pikirin?” Al

