Bab 2

1051 Words
Alena mengulang kata itu pelan, seperti masih mencoba mencerna artinya. Keningnya berkerut, matanya menatap Rendi tanpa ekspresi pasti. “Iya,” jawab Rendi, suaranya pelan tapi terdengar mantap. “Kita sudah menikah… lihat ini.” Ia mengangkat tangan mereka yang masih saling menggenggam, menunjukkan cincin di jari masing-masing. Alena menunduk. Cincin perak itu tampak sama persis — bentuknya sederhana, tapi mengilap di bawah cahaya lampu ruangan. Ia menggerakkan jemarinya pelan, seolah mencoba mengingat sesuatu dari benda itu. “Tidak perlu memaksakan diri mengingatnya,” kata Rendi dengan nada lembut. “Kamu dengar, kan, kata dokter tadi? Yang penting sekarang kamu tahu siapa dirimu. Kamu Alena… istriku.” Ia berhenti sejenak, menatap wajah perempuan itu dengan sorot mata yang lembut. “Dan orang yang paling aku cintai.” Alena menatap Rendi lama, mencoba membaca sesuatu di balik kata-kata itu. Semuanya terdengar tulus, tapi entah kenapa, ada sesuatu yang terasa ganjil di dadanya — seperti ada ruang kosong yang belum bisa ia pahami. “Istri…” gumamnya pelan, lebih seperti bicara pada diri sendiri. Tatapannya kembali ke cincin di jarinya, sementara pikirannya masih berusaha mencari arti dari kata itu. “Aku dan kamu saling mencintai, makanya kita menikah,” ucap Rendi perlahan. Senyumnya tampak tenang, tapi ada sesuatu di matanya yang sulit dijelaskan — seolah ia sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin diingat. “Sudah tiga tahun kita bersama.” Ia menunduk sedikit, mengelus punggung tangan Alena dengan lembut. “Selama ini, kau sudah menjadi istri yang luar biasa untukku. Sekarang… biar aku yang gantian menjadi suami yang luar biasa untukmu.” Hening sejenak. Napasnya terdengar berat, namun cepat ia tutupi dengan senyum tipis. “Aku akan menjagamu, merawatmu, dan menemanimu sepanjang hidupku. Jadi, tetaplah di sisiku, sayang. Apa pun yang terjadi, kau harus percaya padaku.” Ia menatap Alena lagi, dan kali ini, tatapan itu nyaris rapuh. “Aku mencintaimu… sangat mencintaimu,” katanya pelan, suaranya nyaris pecah di akhir kalimat. “Dan aku tidak akan pernah mengizinkanmu pergi dari sisiku.” Alena menatap Rendi lama tanpa berkata apa-apa. Kata-kata itu—aku mencintaimu, sangat mencintaimu—bergema di kepalanya, tapi tidak menimbulkan kehangatan seperti yang seharusnya. Ada sesuatu di dalam dadanya yang bergetar aneh, seperti nada sumbang dalam lagu yang seharusnya indah. Ia tersenyum kecil, mencoba menyesuaikan diri dengan perasaan yang tidak ia kenal. “Aku…” suaranya tercekat sesaat, sebelum ia memaksakan diri melanjutkan, “aku akan berusaha mengingatnya.” Rendi membalas senyumnya, namun tatapan mata mereka bertemu hanya sesaat—cukup lama untuk menyisakan rasa tak nyaman yang Alena sendiri tidak mengerti asalnya. Ketika Rendi menariknya ke dalam pelukan, Alena tidak menolak. Tubuhnya diam, pasrah, tapi pikirannya berkelana jauh. Cincin di jarinya terasa dingin. Dan entah kenapa, di balik kehangatan pelukan itu, ada bisikan samar dalam hatinya. Alena mengerjap, berusaha menepis perasaan itu. Ia menarik napas panjang, menatap bahu Rendi yang masih memeluknya erat. “Rendi…” panggilnya lirih. “Hm?” jawab Rendi tanpa melepaskan pelukannya. “Aku ingin tahu sesuatu,” ucapnya pelan, hati-hati seolah takut menyinggung. “Selain kamu… aku masih punya siapa?” Rendi terdiam sepersekian detik, lalu perlahan melonggarkan pelukannya agar bisa menatap wajah Alena. Senyum lembut terukir di bibirnya, tapi matanya tampak sedikit tegang. “Maksudmu?” tanyanya lembut, pura-pura tidak paham. Alena menunduk, menatap jemarinya yang masih saling menggenggam dengan tangan Rendi. “Maksudku… apakah aku punya orang lain? Keluarga? Teman? Atau… anak?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Hening. Hanya suara mesin monitor di sudut ruangan yang berdetak pelan. Rendi menatapnya lama, seolah sedang memilih kata. “Kamu cuma punya aku, Alena,” jawabnya akhirnya. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan. “Orang tuamu sudah lama tiada. Teman-temanmu… jarang menghubungi sejak kita menikah. Dan anak…” ia berhenti sejenak, menelan ludah, “belum. Tapi suatu hari nanti, kalau kamu mau, kita bisa mencoba lagi.” Alena terdiam. Kita bisa mencoba lagi? Kalimat itu menggema di kepalanya, tapi ia tak tahu bagian mana yang membuat dadanya terasa sesak. “Oh…” hanya itu yang keluar dari bibirnya. Rendi tersenyum tipis. “Kamu nggak perlu mikir keras dulu,” katanya pelan. “Kamu harus Istirahat yang cukup, biar cepat pulih.” Alena mengangkat pandangannya lagi. “Jadi… kita tinggal di mana?” tanyanya ragu. “Di rumah kita,” jawab Rendi, berusaha terdengar biasa saja. “Nanti kalau dokter sudah izinkan, aku bakal bawa kamu pulang ke sana.” Alena mengangguk pelan, tapi sorot matanya masih ragu. Ia belum tahu harus percaya atau tidak. Semua terasa asing — ruangan ini, wajah pria di depannya, bahkan namanya sendiri. Rendi membetulkan selimut di d**a Alena. Gerakannya lembut, hati-hati. “Sekarang kamu istirahat dulu, ya. Aku temenin kamu.” Alena menatapnya sejenak, lalu akhirnya mengangguk. “Baik,” jawabnya pelan. Begitu Alena memejamkan mata, Rendi duduk kembali. Pandangannya kosong beberapa saat, sebelum akhirnya ia menunduk, mengusap wajahnya pelan. Suara getar halus memecah keheningan. Ponsel di meja kecil sebelah ranjang menyala, layar menampilkan nama kontak yang hanya bisa dibaca sekilas oleh Rendi. Ia menatapnya beberapa detik, lalu menoleh ke arah Alena. Perempuan itu masih terpejam, napasnya teratur, seolah benar-benar tertidur. Tapi entah kenapa, Rendi tetap diam memerhatikannya lebih lama, seperti memastikan sesuatu. Tangannya terulur pelan, menyesuaikan selimut yang sedikit bergeser di d**a Alena, lalu baru mengambil ponsel itu. Ia melangkah menjauh sedikit, ke sudut ruangan, menunduk agar suaranya tidak terdengar jelas. “Ya,” suaranya rendah, nyaris seperti desahan. Diam sejenak, hanya terdengar tarikan napasnya yang berat. “Dia sudah sadar… tapi belum ingat apa-apa.” Sunyi beberapa detik. Rendi menatap lantai, matanya redup di bawah cahaya lampu. “Untuk sekarang, biarkan saja begitu,” ucapnya pelan, namun nadanya dingin dan pasti. “Seperti ini… lebih mudah.” Ia berhenti lagi, mendengarkan suara dari seberang. Rahangnya menegang perlahan. “Aku tahu apa yang harus kulakukan,” katanya kemudian, nada suaranya menurun menjadi bisikan nyaris tak terdengar. “Jangan khawatir. Semuanya akan berjalan sesuai rencana.” Setelah itu, ia menutup ponselnya perlahan, menatap layar yang perlahan meredup. Beberapa detik ia hanya berdiri di sana, diam, sebelum matanya beralih kembali ke arah Alena. Wajah perempuan itu masih tampak tenang di bawah cahaya redup, seolah tak tahu apa-apa. Rendi menarik kursi, duduk di samping ranjang, dan menatapnya lama. “Tidurlah,” bisiknya. “Kau tidak perlu mengingat apa pun…” Senyum kecil terlukis di sudut bibirnya — samar, nyaris seperti bayangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD