Bab 3

1117 Words
Rendi tidak langsung menjawab. Tangannya terlipat di atas meja, pandangannya tetap tertuju pada taman di bawah sana. Otot rahangnya tampak menegang. Alena memperhatikan perubahan kecil itu. Pria itu tampak berusaha tenang, tapi sorot matanya jelas berbeda dari biasanya—ada sesuatu yang ia sembunyikan. “Rendi?” panggil Alena lagi, sedikit lebih pelan. Rendi akhirnya menarik napas panjang sebelum membuka suara. “Dulu... kamu nggak mau punya anak dulu,” katanya perlahan. “Katanya, kamu pengin fokus dulu sama karier dan rumah tangga.” Alena mengerutkan dahi. “Aku yang bilang begitu?” “Iya,” jawabnya cepat. “Kamu bilang belum siap.” Alena menatap wajahnya lama. “Tapi sekarang kamu kelihatan ragu waktu jawab. Kamu kayak... nyembunyiin sesuatu.” Rendi menunduk sebentar, lalu tersenyum tipis. “Kamu masih peka, ya. Dari dulu juga gitu.” Ia mencoba tertawa kecil, tapi suaranya terdengar hambar. “Aku cuma... nggak nyangka kamu langsung nanyain itu. Aku pikir kamu bakal nanya hal lain dulu.” “Seperti apa?” “Kayak... hobi kamu dulu apa, kita suka ke mana tiap akhir pekan, atau hal-hal kecil gitu.” “Aku udah nggak penasaran soal itu,” sahut Alena tenang. “Yang aku pengin tahu justru hal-hal besar yang harusnya penting. Kalau kita menikah tiga tahun dan saling mencintai, kenapa nggak ada tanda-tanda kehidupan keluarga di rumah ini? Foto nggak ada. Anak nggak ada. Bahkan—” Alena berhenti, menatap Rendi lurus-lurus, “aku juga nggak tahu kamu tipe orang seperti apa.” Rendi diam. Matanya menatap balik Alena, tapi kali ini pandangannya seperti berusaha menahan sesuatu. “Aku ngerti kamu bingung,” katanya pelan. “Tapi mungkin kamu jangan mikirin terlalu jauh dulu. Soal anak, kita bisa pikirin nanti.” “Kenapa nanti?” tanya Alena cepat. “Kenapa bukan dari dulu?” Rendi menarik napas panjang lagi. Ia menegakkan tubuhnya, bersandar di sandaran kursi. “Kita... punya masa yang nggak mudah, Len.” Suaranya terdengar lebih berat sekarang. “Banyak hal yang mungkin kamu nggak akan ingat atau bahkan nggak mau ingat.” “Apa maksudmu?” “Aku cuma nggak mau kamu stres,” jawab Rendi cepat, berusaha terdengar lembut. “Kamu baru pulih. Dokter bilang, jangan terlalu banyak mikir hal berat dulu. Kalau kamu maksa ingat semuanya sekaligus, itu bisa bahaya.” “Bahaya buat siapa?” tanya Alena datar. Rendi menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab lirih, “Buat kamu sendiri.” Alena menggenggam cangkir di tangannya lebih erat. Ia tahu Rendi sedang menghindar. Kalimatnya terdengar seperti alasan yang sudah disiapkan. “Aku cuma nanya, Ren. Aku nggak maksa inget masa lalu. Aku cuma pengin tahu kebenaran,” katanya tenang tapi tajam. “Kamu bilang aku nggak mau punya anak. Tapi kalau benar begitu, kenapa aku ngerasa... sedih waktu lihat anak kecil di TV tadi pagi?” Rendi terdiam lagi. Tatapannya kali ini menunduk. “Kadang perasaan bisa menipu,” katanya pelan. “Kamu belum tentu ingat semua dengan benar.” Alena menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Rendi dengan pandangan tak lepas. “Atau mungkin kamu yang nggak mau aku ingat semuanya,” balasnya tanpa nada tinggi. Rendi menatapnya, kali ini lebih lama. Wajahnya tetap datar, tapi sorot matanya jelas berubah—ada sedikit kegelisahan di sana. “Aku nggak akan pernah ngelakuin hal yang bisa nyakitin kamu,” ucapnya akhirnya. “Kalau kamu ngerasa aku sembunyiin sesuatu, aku minta maaf. Tapi semua yang aku lakuin cuma buat kebaikan kamu.” Alena menghela napas pendek. “Kebaikan versimu?” Rendi tak menjawab. Ia hanya menggeser cangkir di depannya sedikit, lalu berdiri. “Aku taruh sisa teh di termos. Kalau kamu mau nambah nanti malam, tinggal tuang aja. Aku mau ke bawah bentar, ngecek pelayan udah siapin makan malam atau belum.” “Rendi,” panggil Alena sebelum pria itu sempat melangkah pergi. Rendi menoleh. “Kalau aku beneran pernah bilang nggak mau punya anak, kamu masih inget kenapa aku bilang begitu?” Pria itu terdiam di tempatnya selama beberapa detik, lalu menatap Alena dengan senyum tipis yang sulit dibaca. “Karena kamu takut kehilangan.” Alena mengerutkan alis, tidak paham. “Takut kehilangan apa?” Rendi tersenyum lagi—senyum yang sama seperti sebelumnya, lembut tapi datar. “Kamu sendiri yang bilang, kamu nggak pengin ngalamin rasa kehilangan kayak dulu lagi.” “Dulu?” Rendi hanya menggeleng pelan. “Udah malam. Kamu istirahat dulu, ya.” Ia lalu menutup pintu balkon pelan dan pergi meninggalkan Alena yang masih duduk di sana, menatap cangkir tehnya yang sudah mulai dingin. Kata-kata terakhir Rendi terus terngiang di kepalanya. Takut kehilangan seperti dulu. Tapi kehilangan apa? Siapa? Ia mencoba mengingat sesuatu—apapun. Tapi yang muncul hanya rasa sesak di d**a dan kepala yang mulai berdenyut pelan. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia pulang dari rumah sakit, Alena merasa benar-benar tidak yakin apakah orang yang mengaku suaminya itu benar-benar berkata jujur. **** Keesokan paginya, sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar. Udara masih terasa sejuk, aroma sabun dari kamar mandi yang baru saja digunakan Rendi masih tercium samar. Ia sudah rapi dengan kemeja biru muda dan celana panjang hitam, tapi belum beranjak dari kamar. Di sisi ranjang, Alena masih berbaring, terlihat baru saja terbangun. Matanya sedikit bengkak karena tidur tidak nyenyak. “Pagi,” sapa Rendi pelan sambil mendekat. “Tidurmu nyenyak?” Alena menggeleng lemah. “Sedikit. Aku sempat kebangun tengah malam.” Rendi duduk di tepi ranjang, tangannya otomatis merapikan selimut di atas kaki Alena. “Masih pusing?” “Sedikit, tapi udah mendingan.” Rendi mengangguk. “Hari ini aku ada rapat di kantor. Tapi sebelum berangkat, aku bantu kamu bersiap dulu, ya?” Alena menatapnya bingung. “Bersiap... maksudmu?” “Ya, mandi, sarapan, minum obat. Dokter pesan kamu nggak boleh kecapean. Jadi biar aku bantu,” jelas Rendi dengan nada santai. Alena spontan duduk lebih tegak. “Kamu bantu... mandiin aku?” tanyanya ragu, hampir berbisik. Rendi mengangguk kecil, lalu tersenyum seolah hal itu sesuatu yang wajar. “Iya, kalau kamu belum kuat.” Wajah Alena memanas seketika. Ia menunduk, menatap ujung jarinya sendiri. “Aku... kayaknya bisa sendiri.” Rendi memperhatikan ekspresinya beberapa detik, lalu tersenyum lembut. “Baik, nggak apa-apa. Aku siapkan air hangat aja, ya? Kamu pelan-pelan aja masuknya.” Tanpa menunggu jawaban, Rendi berdiri dan masuk ke kamar mandi. Terdengar suara air mengalir, lalu beberapa bunyi kecil dari gayung dan ember. Setelah beberapa menit, ia keluar sambil mengelap tangannya dengan handuk. “Airnya udah siap. Aku taruh baju ganti di gantungan, ya. Jangan lupa, kalau pusing panggil aku,” katanya sambil menunjuk ke arah kamar mandi. Alena mengangguk, masih canggung. “Terima kasih.” Rendi tidak menanggapi lebih jauh. Ia hanya menatapnya sebentar, lalu berjalan keluar kamar memberi ruang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD