Alena masuk ke kamar mandi pelan-pelan. Air hangat yang sudah disiapkan Rendi terasa pas di kulit. Ia mandi perlahan, memerhatikan setiap pergerakannya di cermin. Bekas luka di pelipisnya masih terlihat samar, tapi tidak terlalu sakit.
Beberapa kali, ia mendengar suara langkah Rendi dari luar kamar. Lelaki itu tampaknya benar-benar tidak jauh-jauh pergi, seolah ingin memastikan ia baik-baik saja.
Setelah selesai, Alena memakai pakaian yang sudah disiapkan—gaun rumah berwarna krem lembut, sederhana tapi nyaman. Ia mengeringkan tubuhnya perlahan, lalu membuka pintu kamar mandi.
Rendi sudah menunggu di dekat meja rias. Di tangannya, ada handuk kecil dan hair dryer.
“Udah selesai?” tanyanya sambil berdiri.
Alena mengangguk. “Iya.”
“Duduk di sini bentar, biar aku bantu keringin rambutmu.”
Alena sempat ingin menolak, tapi melihat ekspresi serius di wajah Rendi, ia memilih diam dan menuruti. Ia duduk di kursi rias, membiarkan pria itu berdiri di belakangnya.
Rendi menyalakan hair dryer dengan pengaturan paling rendah. Angin hangat pelan berhembus, membuat helai rambut Alena bergerak ringan. Ia menggunakan jarinya untuk merapikan rambut, lalu sesekali berhenti untuk memastikan suhu tidak terlalu panas.
“Kalau terlalu panas, bilang ya,” ucapnya pelan.
“Enggak, ini pas,” jawab Alena lirih.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Rendi benar-benar telaten, bahkan ia tampak seperti sudah terbiasa melakukannya. Setelah rambut Alena kering, ia mengambil sisir dan mulai menyisir dengan hati-hati.
Gerakannya pelan, tidak kasar. Setiap kali menemukan bagian yang kusut, ia berhenti sejenak, menguraikannya perlahan dengan jari.
“Kamu dulu suka marah kalau aku nyisir rambutmu,” katanya tiba-tiba. “Katanya aku kasar.”
Alena memandangi pantulan Rendi di cermin. “Sekarang nggak,” balasnya pelan. “Kamu hati-hati banget.”
Rendi hanya tersenyum kecil. “Ya harus begitu. Kamu baru sembuh.”
Setelah selesai, ia menepuk bahunya ringan. “Sudah. Rapih.”
Alena menatap dirinya di cermin. Rambutnya kini kering dan tertata. Ia mengucapkan terima kasih pelan, lalu berdiri.
Rendi lalu berjalan ke meja kecil di sisi tempat tidur. Di sana sudah ada nampan berisi bubur ayam, segelas air putih, dan beberapa butir obat.
“Sekarang makan dulu, ya. Obatnya diminum setelah makan.”
Alena duduk kembali di tepi ranjang. Ia ingin menyuap sendiri, tapi Rendi langsung mengambil sendok.
“Biar aku aja. Tangannya masih lemas kan?”
“Sedikit,” jawab Alena ragu.
“Ya udah, santai aja.”
Rendi menyuapkan sendok pertama perlahan, menunggu sampai Alena menelan sebelum menyuap lagi. Setiap gerakannya hati-hati, seperti sedang merawat sesuatu yang rapuh.
“Masih terasa aneh rasanya?” tanyanya.
“Sedikit,” jawab Alena. “Tapi masih bisa dimakan.”
“Kalau kamu bosan bubur, nanti aku minta pelayan masak sup aja,” katanya sambil menatapnya penuh perhatian.
Setelah beberapa suapan, Alena akhirnya bisa makan habis. Rendi kemudian memberinya air putih dan membantu membuka bungkus obat. Ia memerhatikan sampai Alena benar-benar menelan semuanya sebelum membereskan nampan.
“Udah cukup buat pagi ini. Kamu istirahat aja dulu. Aku ke kantor sebentar, nanti sore pulang cepat,” katanya sambil merapikan sisa tisu di meja.
Alena menatapnya sebentar. “Kamu nggak perlu terburu-buru pulang. Aku baik-baik aja.”
Rendi menggeleng kecil. “Nggak apa-apa. Aku lebih tenang kalau kamu nggak sendirian lama-lama.”
Ia kemudian menepuk kepala Alena pelan, gerakannya spontan tapi lembut. “Tidur lagi aja setelah ini, ya. Aku udah bilang ke pelayan buat standby di bawah. Kalau butuh apa-apa tinggal panggil.”
Alena mengangguk, memperhatikannya berjalan ke arah pintu.
Sebelum keluar, Rendi menoleh sebentar. “Oh iya, jangan banyak jalan ke tangga, bahaya. Nanti sore aku bantu turun kalau kamu mau ke taman.”
Pintu tertutup pelan.
Alena terdiam di tempat, menatap cangkir air di tangannya. Semua perhatian Rendi terasa tulus, tapi tetap ada hal yang tidak bisa ia pahami—kenapa setiap kali pria itu memperlakukannya dengan lembut, ada perasaan aneh di dadanya, campuran antara tidak nyaman dan bingung.
Ia tahu Rendi baik. Tapi di balik semua kebaikannya, entah kenapa, terasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
*****
Setelah selesai makan, Alena masih duduk di tepi ranjang. Cangkir air di tangannya kini hanya tersisa setengah. Di meja kecil, nampan bekas makannya sudah diangkat oleh pelayan rumah—seorang wanita paruh baya bernama Bi Rukmi, satu-satunya pelayan yang terlihat tinggal di rumah itu.
“Sudah selesai, Bu Alena?” tanya Bi Rukmi sopan sambil membereskan sisa tisu dan sendok.
Alena mengangguk pelan. “Iya, Bi. Terima kasih, ya.”
“Kalau begitu saya bawa ke dapur dulu, Bu.”
Bi Rukmi berjalan pelan menuju pintu. Tapi saat langkahnya baru beberapa meter, suara Alena memanggil, pelan tapi terdengar jelas.
“Bi, tunggu sebentar.”
Langkah Bi Rukmi berhenti. Ia menoleh, agak terkejut. “Iya, Bu? Ada yang bisa saya ambilkan?”
Alena menggeleng. “Bukan itu. Aku mau nanya sesuatu.”
Pelayan itu menatapnya sebentar, lalu mendekat kembali. Ia meletakkan nampan di atas meja kecil dekat balkon, kemudian berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam di depan tubuhnya—sikap sopan yang sudah terbentuk dari kebiasaan bertahun-tahun bekerja.
“Boleh, Bu. Mau tanya apa?”
Alena menatapnya lama. Wajah Bi Rukmi terlihat ramah, tapi ada sedikit ketegangan di matanya, seperti seseorang yang selalu berhati-hati memilih kata.
“Bi…” Alena menarik napas. “Benarkah aku sudah lama tinggal di rumah ini?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja. Ia sebenarnya sudah ingin menanyakannya sejak kemarin, tapi baru sekarang berani.
Bi Rukmi tampak kaget sejenak. Ia tidak langsung menjawab, matanya bergerak ke arah pintu kamar, seolah memastikan tidak ada orang lain di sekitar.
“Lama?” ulangnya pelan. “Ibu maksud... sejak kapan?”
“Ya... sejak aku menikah dengan Rendi. Aku merasa seperti pernah ke rumah ini, tapi nggak benar-benar ingat semuanya. Seolah... aku baru pertama kali masuk, tapi nggak juga asing.”
Bi Rukmi menelan ludah pelan. “Ibu memang sudah tinggal di sini lama. Sudah lebih dari tiga tahun. Tapi... setelah kecelakaan itu, Ibu baru pulang lagi ke rumah ini minggu kemarin.”
Alena mengerutkan kening. “Kecelakaan itu?”
“Iya, Bu. Kecelakaan yang bikin Ibu dirawat di rumah sakit waktu itu. Kata Pak Rendi, Ibu sempat hilang ingatan sementara. Makanya... mungkin ada hal-hal yang belum Ibu ingat.”
Alena menatap Bi Rukmi dalam-dalam. “Tapi kalau aku sudah lama tinggal di sini... kenapa rumah ini terasa sepi? Cuma ada Bi Rukmi aja?”
Pelayan itu tersenyum tipis, tapi jelas ada kegelisahan yang ia sembunyikan. “Dulu ada dua pembantu lain, Bu. Tapi setelah Ibu... ehm, waktu itu sakit dan dirawat lama, Pak Rendi memutuskan untuk tidak banyak orang di rumah. Katanya biar nggak ramai, biar Ibu nanti bisa istirahat tenang kalau pulang.”
“Jadi cuma Bi yang tinggal di sini?”
“Iya, Bu. Saya aja. Kalau butuh bantuan lain, biasanya orang luar yang dipanggil. Ada tukang kebun, tapi datangnya seminggu dua kali.”
Alena diam. Ia menatap sekitar ruangan—semuanya memang bersih, rapi, tapi terlalu sunyi. Tidak ada suara lain selain jam dinding yang berdetak pelan.
“Terus...” Alena menatap Bi Rukmi hati-hati. “Waktu aku kecelakaan itu, Bi tahu apa yang sebenarnya terjadi?”
Pertanyaan itu membuat Bi Rukmi menunduk cepat. Ia menatap lantai cukup lama sebelum menjawab dengan nada ragu.
“Saya cuma tahu Ibu waktu itu keluar rumah sendirian. Katanya mau cari udara segar. Setelah itu... saya dengar kabar dari Pak Rendi kalau Ibu kecelakaan di jalan raya. Saya nggak tahu detailnya, Bu.”
“Sendirian?”
“Iya. Biasanya Ibu nggak pernah keluar tanpa Pak Rendi. Tapi hari itu katanya Ibu tiba-tiba aja pergi. Saya juga kaget waktu tahu.”
Alena kembali diam. Ia mencoba mengingat, tapi kepalanya terasa berat. Tidak ada gambaran jelas tentang kejadian yang dimaksud.
Bi Rukmi memperhatikan perubahan wajahnya. “Bu, Ibu nggak apa-apa? Mungkin jangan dipikir terlalu berat dulu. Dokter bilang kalau ingatan Ibu nanti pulih sendiri, asal nggak dipaksa.”
Alena menatap Bi Rukmi dalam-dalam. “Bi, aku mau nanya satu hal lagi.”