"Pa-pagi Dok!" Entah kenapa, sejak Rio melihat Dyra mengamuk di ruangannya. Ia menjadi gugup saat bertemu Dyra. Hal itu membuat Dyra menautkan kedua alisnya. Ada apa dengan Dokter magang itu? "Kamu kenapa?" Dyra meneliti wajah laki-laki itu. "Kamu sakit? Kenapa mukanya merah sekali?" Rio mundur dan tersenyum kaku. "Eh, merah ya Dok?" Ia memegang wajahnya. "Sepertinya saya agak demam." Dyra menggeleng geli. "Dasar aneh," dia berjalan mendahului. "Kalau demam, mending pulang aja. Dari pada nularin ke orang lain." "I-iya Dok." Dyra melanjutkan langkahnya menuju resepsionis. "Hay, pagi Dokter Dyra!" Sapa resepsionis, Dyra tersenyum dan menyapa balik. Meletakkan barkot di atas mesin. Kemudian masuk, setelah pintu gerbang itu terbuka. Hampir saja Dyra memasuki lift. Kala resepsionis itu

