Tragedi Malam Itu
Lorong gelap kota Canada.
Seorang gadis bertubuh mungil berlari ketakutan, dengan napas terengah-engah. Tanpa sempat mengatur napas, gadis itu bersembunyi dibalik tumpukan sampah kota. Dibalik tumpukan kotak kardus bekas dan barang-barang rongsokan yang menggunung.
Malam itu begitu sunyi. Tak ada seorangpun yang lewat di sepanjang jalan. Area kumuh, tak terawat yang tak berpenghuni.
Gadis itu menahan napasnya, ketika seorang pemuda melangkah perlahan ikut memasuki lorong gelap itu, pemuda itu berjalan semakin mendekat.
"Loretta, kau lari kemana manis. Kemarilah sayangku," panggilnya dengan suara lembut.
Gadis itu menekuk kakinya dengan kedua tangannya. Ia berharap tidak kelihatan dari tempat persembunyiannya. Badannya bergetar karena ketakutan. "Ibu, tolong aku!" Teriaknya dalam hati.
"Loretta, aku bisa melihatmu di sana, keluarlah sayang." Kata pemuda itu, melangkah perlahan semakin dekat. Gadis itu meringkuk ketakutan, pasrah pada apa yang akan terjadi kemudian.
Tiba-tiba tungkai kaki kanannya ditarik dengan kasar. Gadis itu melawan, memberontak.
"Lepas. Lepaskan aku!" Teriaknya berkali-kali.
Gadis itu terus berusaha menendang, memukul dengan sekuat tenaga.
"Lepaskan aku."
Tetapi semua usahanya sia-sia. Badannya terlalu kecil dan lemah.
Pemuda tak dikenal itu kini mencengkeram rambutnya, menampar pipinya dengan keras. Kemudian mengangkat wajah gadis itu. Mencium bibirnya, mengulumnya sehingga gadis itu tak bisa berteriak. Bau alkohol yang keras menyeruak dari dalam mulutnya. Dan tangannya bergerak begitu cepat melucuti pakaian gadis itu.
Gadis mungil itu berontak namun tak berdaya. Air matanya menetes, ketika pemuda tak dikenal itu merobek keperawanannya. Semuanya begitu cepat.
"Loretta, Loretta! Akhirnya aku mendapatkanmu," bisiknya lalu tertawa terkekeh.
"Sisiapa kamu? Mengapa kau lakukan ini padaku. Apa salahku!" Serunya sambil terisak.
"Loretta, sudah lama aku menginginkanmu." Katanya lalu bersiul menadakan sebuah lagu sambil berlalu meninggalkan lorong gelap itu. Meninggalkan gadis itu begitu saja.
Loretta, nama gadis mungil itu. Gadis berparas cantik dengan rambut coklat gelap, dengan netra berwarna gelap dan kulit putih bersih khas Asia.
Loretta merasakan sakit di bagian kewanitaannya. Dia segera memakai pakaiannya, dan berjalan tertatih keluar dari lorong gelap itu. Dia menangis.
Dia terus berjalan, beberapa orang yang berpapasan dengannya, melihat kepadanya dengan iba.
Dia memasuki pagar rumahnya, mengeluarkan kunci untuk masuk ke dalam rumahnya.
Rumah itu sangat sunyi, kotor dan berdebu.
Setelah menutup pintu, dia terduduk dan menangis meratapi nasib buruknya.
"Ibu, kenapa nasibku buruk sekali. Apa salahku?!" Katanya sambil memukul dadanya sendiri.
Loretta yang dulu terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Seorang anak yang cantik, pintar, selalu ceria dan disayangi semua orang. Semua berharap menjadi sepertinya.
Setahun sudah berlalu semenjak ibunya meninggal karena serangan jantung. Lalu Ayahnya meninggalkannya untuk menikah lagi.
Sehingga Loretta tidak melanjutkan sekolahnya sejak saat itu. Di usia 19 tahunnya, ia harus mencari nafkah sendiri. Tapi apa yang bisa dia kerjakan. Dia hanya lulusan SMA saja. Gadis itu mau mengerjakan apa pun. Baik pekerjaan kasar atau apapun. Asalkan bisa mengisi perutnya.
Dia tak pernah merasa menyakiti orang lain. Tapi siapa pemuda tadi. Kenapa dia memperkosanya.
Loretta memikirkan nasib buruknya, meratapinya sampai pagi menjelang.
Dia tidak keluar dari rumahnya. Dia masih ketakutan.
Perlahan dia bangkit, mengambil handuk dan mandi. Di bawah shower, gadis itu kembali menangis. Di gosoknya tubuhnya keras-keras, digosoknya terus. Dia merasa tubuhnya sangat kotor. Sambil menangis dia berteriak memanggil-manggil ibunya.
Cukup lama Loretta mandi sambil mengutuki diri atas nasibnya.
Setelah itu, dia naik ke tempat tidurnya dan menarik selimutnya. Dia berharap semuanya adalah mimpi. Hanya mimpi buruk. Setelah dia bangun nanti, semua akan baik-baik saja. Dan semuanya akan kembali normal.
Hari menjelang sore ketika Loretta bangun. Bagian sensitifnya masih saja terasa berdenyut dan sakit. Ditambah perutnya yang belum terisi sama sekali hari ini. Dia terpaksa harus keluar.
Sore itu Loretta berjalan, dia bermaksud membeli beberapa potong roti. 'Lumayan, bisa berhemat.' Pikirnya.
Saat melangkah berjalan kembali ke arah rumah, dia merasa kejanggalan. Loretta kembali diikuti. Gadis itu sangat ketakutan. Pikirannya kembali pada peristiwa semalam. Dia berjalan semakin cepat dan semakin cepat.
"Sial, seharusnya aku tidak keluar rumah. Ibu, aku harus bagaimana," gumamnya.
Tiba-tiba dia menabrak seorang wanita di depan sebuah kafe.
Wanita itu terhuyung, dan secara reflek memegang bahu Loretta sebagai tumpuan.
"Ah, Loretta Asher. Ternyata kau." Kata wanita muda itu setelah berhasil mengembalikan keseimbangan tubuhnya.
"Maaf nyonya," kata gadis itu sambil.menunduk ketakutan.
Wanita muda itu mengangkat dagu Loretta. "Kau pucat sekali, sayang. Masuklah sebentar." Wanita itu menarik lengan tangan Loretta ke dalam kafe.
"Sayang. Aku Gina. Eugina Clifford. Aku mengenal ibumu. Paras wajahmu mengingatkan aku padanya. Badan mungil, tatapan sayu dan ah warna mata itu," kata Gina sambil menghidangkan sepiring roti panggang beraroma bawang putih.
Kemudian dia menyodorkan botol selai coklat dan segelas s**u.
"Diana, dia wanita yang baik. Dia sering menolongku dulu."
"Aku rasa dia menganggapku sosok adik baginya. Aku sangat merindukannya." Katanya.
Loretta menikmati hidangan dalam diam. Dia sudah sangat kelaparan.
Gina tersenyum melihat gadis bertubuh mungil itu makan dengan tergesa-gesa. "Makanlah dengan perlahan, Loretta"
"Nyonya, apakah ada yang bisa aku kerjakan. Aku tak mungkin makan gratis di sini. Sesuatu. Apapun, seperti membersihkan cafee atau mencuci piring." Kata Loretta kemudian.
Gina terkejut dengan pertanyaan itu.
Diana mendidik anak ini dengan baik. Dia tahu tidak ada yang gratis di dunia ini. Dan dia tidak bermental peminta-minta. Padahal sebaliknya, dia tahu ibunya seringkali membantunya.
Gina menggaruk keningnya yang tidak gatal karena kebingungan.
"Ah, Loretta. Apa kau mencari pekerjaan?"
"Ya nyonya. Pekerjaan yang cukup untuk aku bisa hidup. Bisa mengisi perutku. Apapun juga."
"Baiklah. Kau boleh menjaga cafee ini. Lagipula aku lelah dan bosan tiap hari di sini. Apa kau mau?"
"Be benarkah nyonya? Sangat senang sekali nyonya. Terima kasih. Terima kasih." Gadis itu berdiri melompat kegirangan dan menjabat tangan Gina.
"Ibu, akhirnya engkau pula yang menolong aku. Terima kasih ibu." Katanya dalam hati.
Loretta pulang dengan hati yang tenang. Setidaknya sekarang dia mempunyai pekerjaan tetap dan tak perlu memikirkan masalah pengisi perut. Walaupun dia masih tetap teringat kejadian malam sebelumnya. Dia terus berusaha melupakannya.
Loretta membuka pintu rumahnya, menyalakan lampu dan masuk ke balutan hangat selimutnya kembali. Dia berharap bahwa hari esok adalah hari yang lebih baik lagi.
Sepanjang perjalanan pulang, gadis itu tak menyadari bahwa pemuda itu telah mengikutinya kembali sampai ke depan rumah. Pemuda misterius itu menatap jendela kamar benderang gadis itu.
"Loretta, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu." gumamnya.