"Selamat pagi." Kata Lorreta dengan ceria.
"Hai, selamat pagi sayang. Pagi sekali kau sampai kemari."
Loretta tersenyum, " Saya senang sekali, nyonya. Sampai tak dapat tidur."
"Panggil Kakak saja. Kak Gina ya. Jangan panggil nyonya."
"Baik nyonya, eh... Kak Gina."
Loretta segera mengambil sapu dan mulai membersihkan cafee sebelum di buka. Dibersihkannya semua kaca jendela dan meja. Sebentar kemudian semuanya sudah rapi dan bersih.
Gina membalik plat di pintu nya, menjadi OPEN.
Beberapa saat kemudian, cafee itu telah ramai pengunjung.
"Mungkinkah dia pembawa keberuntungan di cafeeku." Pikir Gina, sambil mengajarkan cara meracik berbagai macam kopi kepada Loretta.
Loretta tetap seorang yang cepat belajar. Walaupun dia lama tidak bersekolah, tetapi dia tetap.cepat dalam menyerap hal baru baginya.
Dia dengan mudah mengenal dan dapat membedakan aroma dan jenis kopi robusta dan arabika. Dia cepat dalam meracik dan menyeduh berbagai varian kopi.
Gina merasa puas akan muridnya. Dia akan merasa tenang karena ada Loretta yang menggantikan tugasnya tanpa mengubah taste sentuhan kopinya.
Beberapa hari berlalu.
Pendapatan cafee semakin meningkat. Semakin banyak pengunjung yang datang.
"Ah... kakak cantik sekali." Kata seorang remaja pria SMA.
"Terimakasih pujiannya, dik. Ini pesanannya. Besok datang lagi ya." Kata Loretta.
"Wah, wah, ternyata bukan hanya rajin dan pintar saja ya. Tapi juga banyak penggemar. Beruntung juga aku mendapat pegawai sepertimu." Goda Gina sambil tertawa terkekeh.
"Ih kakak. Kalau Loretta jualnya sambil cemberut, dijamin deh, tidak bakal ada yang datang. Yang mahal ini nih kak. Senyumannya." Kata Loretta sambil memperagakan senyumannya yang memperlihatkan gigi depannya yang putih dan tesusun rapi.
Gina tertawa terkekeh melihat wajah Loretta.
"Semangat terus sayang," kata Gina kemudian.
"Eh, kak. Coba liat deh. Pemuda itu tiap hari duduk di kursi taman itu deh."
"Pemuda yang mana. Yang mana sayang?"
"Itu yang pakai topi baseball kak."
" Mungkin hanya perasaanmu saja, ya. Mungkin orang yang berbeda. Atau kalau benar, mungkin dia menunggu seseorang. Entah siapa. Siapa tahu kekasihnya, mungkin?"
Loretta manggut-manggut mengiyakan.
"Ah, semoga perasaanku kali ini tidak tepat." Batinnya.
Tetapi keesokan harinya, pemuda itu hadir lagi. Dia duduk di tempat yang sama. Keesokan dan keesokan harinya pun demikian.
Loretha kembali teringat kejadian malam itu ketika melihat pemuda itu. Benarkah itu dia? Apakah aku mengenalnya? Lututnya menjadi lemas ketika mencoba mengulang memorinya mengingat fakta yang terjadi pada malam itu. Dia jatuh bersimpuh.
"Ya, dia pemuda itu!"
...
Setelah kejadian itu, Loretta tak melihat pemuda itu lagi. Sampai beberapa minggu kemudian
Di suatu pagi, Loretta merasa tidak enak badan. Entah kenapa badannya terasa berat untuk melakukan sesuatu. Perutnya berasa diaduk-aduk. Dan muntah tanpa alasan yang jelas.
"Kak, sebaiknya aku meliburkan diri hari ini." Kata Loretta setelah selesai membersihkan kafe.
"Kamu kenapa sayang?" Gina menyentuh kening Loretha.
"Apa kamu sakit? Oke, pergilah beristirahat," jawab Gina.
Entah kenapa, badan Loretta begitu lemah. Nafsu makannya menghilang. Dia hanya.tidur.sepanjang hari, bersembunyi di balik selimutnya. Sampai keesokan harinya, dia sama.sekali tidak bergerak dari tempat tidurnya.
Gina merasa ada yang janggal. Dia pergi ke rumah Loretta. Diketuknya pintu rumahnya.
Lama dia menunggu. Sampai akhirnya pintu dibuka, tampak seorang gadis dengan rambut acak-acakan. Bau mint tersebar di seisi rumah. "Ada apa denganmu, Loretta," batinnya.
"Oh hai kak. Maaf aku tidak dapat datang membantu hari ini."
"Loretta, aku mempunyai seorang teman. Mungkin dia dapat membantumu. Mari aku antar ke sana."
Loretta sangat mempercayai Gina, dia menganggap Gina adalah utusan ibunya dari surga. Loretta dengan patuh bersiap-siap dan segera mengikuti Gina.
...
"Gina, siapa gadis itu?" Tanya Mitchel penuh selidik.
"Gadis itu anak kenalanku. Ibunya meninggal, sedang ayahnya meninggalkan dia untuk menikah lagi."
"Ah, sungguh malang. Cobaan terus datang. Begitu pula kali ini. Apa kau mengenal siapa kekasihnya?"
"Aku rasa dia tidak mempunyai kekasih. Dia seharian bersamaku setiap hari. Mengelola kafe. Tapi tak pernah aku lihat dia bersama seorang pria pun."
" Sebentar, jangan katakan padaku kalau dia sedang," mata Gina terbelalak, dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Maaf, seperti itu adanya." Kata Mitchel sambil mengangkat kedua tangannya. Mitchel menoleh ke arah Loretta. Gadis itu sedang merapikan pakaiannya. Pandangan mereka bertemu. Loretta melemparkan senyum terima kasihnya pada Mitchel. Mitchel terpesona, senyuman Loretta yang membuat wajahnya terlihat semakin menawan. Wajahnya mendadak memerah dan dia menjadi salah tingkah.
"Mitchel," panggil Gina.
"Mitchel!"
"Ah ya, Gina."
"Jangan bertindak yang aneh-aneh. Dia dalam pengawasanku."
"Ah. Eh. Ya ya. Pasti Gina. Aku pasti akan tetap setia menunggu jawabanmu," jawabnya menggoda Gina.
"Ok kalau begitu kami pamit dulu," kata Gina setelah Loretta telah siap dan berada di sampingnya.
"Ya, Gina. Kabari aku jika ada masalah.", kata Mitchel sambil menjabat tangan sahabatnya itu.
"Terima kasih dokter.", kata Loretta.
"Sama-sama. Dan jangan lupa untuk meminum semua obat yang aku resepkan." katanya.
Mitchel menatap kepergian kedua wanita itu. "Gina, susah sekali menakhlukkan hatimu. Sebaiknya aku tak terlalu mengharapkan dia menerimaku." Katanya dalam hati.
"Ya. Pasien berikutnya," katanya kemudian.
..
"Loretta, apa kamu mempercayaiku?" Kata Gina tiba-tiba.
"Tentu saja kak. Siapa lagi yang bisa kupercaya di dunia ini. Selain kak Gina."
"Boleh aku bertanya? Dan aku minta jawaban paling jujur. Supaya aku dapat membantumu, Loretta."
"Kak, apa ini menyangkut penyakitku? Apa yang sebenarnya terjadi kak? Bukankah Loretta berhak tahu?"
Gina menghela napas.
"Mitchel, mengatakan padaku tidak ada sesuatu yang salah di tubuhmu, Loretta."
Gina mengangkat cangkir tehnya, meminumnya sedikit sebelum kembali berbicara.
"Dia bertanya padaku, apakah kau punya kekasih, Loretta? Bisa kau beritahu padaku?"
"Kekasih? Tidak kakak. Aku tidak mungkin menyembunyikan darimu jika aku memilikinya."
"Lalu bagaimana bisa kau hamil jika kau tidak menikah bahkan tidak memiliki seorang kekasihpun?"
Loretta terkejut. "Hamil? Jadi aku hamil, kak?"
Loretta menangis, bayangan kejadian malam itu kembali berputar di kepalanya. Peristiwa yang selalu berusaha dilupakannya, menyeruak kembali.
"Loretta, katakan padaku. Apa sebenarnya yang terjadi." kata Gina sambil memeluk Loretta. Di tepuk-tepuknya punggung gadis itu, berusaha menenangkannya.
Loretta menceritakan semua kejadian yang dia alami malam itu. Dia menangis, memikirkan masa depannya. Untuk hidupnya sendiri saja dia masih bergantung pada kebaikan hati Gina. Lantas jika dia sudah mempunyai seorang anak, kebutuhan hidupnya pasti akan meningkat. Tak mungkin dia hanya akan hidup sebagai benalu bagi Gina.
Gina memeluknya, berusaha menenangkannya. "Kita akan cari jalan keluarnya bersama-sama, sayang. Jangan takut. Badai sebesar apapun pasti akan tetap berakhir."
...
Loretta pulang dari pekerjaannya di cafee. Dia berjalan kaki seperti biasanya. Kali ini kakinya melangkah dengan berat, seolah merasakan beban berat dalam hatinya. Wajahnya sayu.
Di belakangnya, sosok pemuda misterius mengikutinya dari kejauhan. Saat Loretta menghentikan langkahnya, dia pun ikut berhenti.
Pemuda misterius itu terus mengikutinya, sampai Loretta benar-benar masuk ke dalam rumahnya.
"Apa yang terjadi Loretta, wajahmu terlihat sedih dan pucat. Apa itu karena aku? Maafkan aku sayang," gumamnya, lalu berbalik meninggalkan rumah Loretta.