Perjodohan

1194 Words
Pagi hari, Loretta telah berada di cafee. Dia menyibukkan diri membersihkan lantai, mengatur meja dan kursi serta membersihkan kaca jendela. Jam telah menunjukkan pukul 9 tetapi Gina tetap diam, tidak ada pertanda siap untuk membuka kafenya. Gina sibuk dengan pikirannya. "Loretta! Sayang, aku telah banyak memikirkan masalah yang telah kau alami, semalam." "Sekarang aku bertanya padamu, apakah kau mau aku antar mengajukan perkara ini ke kantor polisi? Kita akan menuntut secara hukum." "Kakak, aku tidak ingin berurusan dengan polisi, apalagi dengan hukum. Teringat akan peristiwa itu saja sangat menyiksa buatku. Apalagi nanti saat proses, sudah pasti aku harus terus menerus mengingatnya. Aku ingin melupakannya, kak." Gina terdiam. Dia mengurut keningnya sendiri. Berpikir. "Loretta, bagaimana jika aku meminta Mitchel untuk melakukan aborsi? Kau masih terlalu muda, sayang. Masa depanmu masih panjang." "Oh, tidak - tidak kak. Jangan aborsi. Aku sangat takut." "Apa yang kau takutkan Loretta, apalagi kau dibantu seorang dokter." "Kak Gina, aku takut Tuhan, kak. Aborsi sama dengan membunuh. Membunuh makhluk kecil tak berdaya ciptaanNya. Lagipula itu adalah anakku, kak." Gina mendesah. Kepalanya terasa pusing memikirkan masalah ini. "Lalu apa rencanamu, Loretta?" tanyanya sambil mendekati Loretta yang sedang membersihkan kaca jendela. "Aku akan melahirkannya. Apapun akibatnya." Jawaban Loretta sangat tegas dan mengejutkan. "Apakah kau siap membesarkan anak itu sendirian, Loretta?" "Bagaimanapun aku harus bisa, kak," jawabnya. Gina menyerah dalam membujuk Loretta. "Baiklah Loretta, aku akan mendukung apapun keputusanmu." "Tapi bayi itu kelak tetap membutuhkan sosok ayah. Kau harus memikirkannya juga, sayang." "Tapi kak." "Aku akan mencari biro jodoh. Datanglah ke beberapa perjodohan, Loretta, siapa tau kau bertemu jodohmu. Calon ayah dari anak dalan rahimmu." "Baiklah kak." Dan akhirnya, Gina membalik plat bertuliskan CLOSE itu. Mereka akan lebih tenang dalam bekerja, karena setengah dari masalah telah mereka bicarakan dan telah menemukan beberapa solusi. ... Dragonflies caffee. Pagi itu Gina menyodorkan beberapa foto di hadapan Loretta. "Kak Gina. Siapa mereka?" "Beberapa calon untukmu, dari biro jodoh. Apa kau mau mencoba mengenal mereka? Siapa tau ada seseorang yang cocok." "Baiklah. Aku menurut saja. Kapan pertemuannya kak?" "Pertama, siapa yang ingin kamu kenal?" Loretta memandang beberapa foto yang berjajar di meja. Semuanya pria dengan umur diatas 30 tahun. Cukup dewasa dibanding usia Loretta yang terbilang muda. Menjelang 20 tahun. Loretta menunjuk pria yang terlihat paling muda. "Ini kak. Aku akan coba mengenal dia terlebih dulu." "Baik. Akan aku atur pertemuan kalian." Gina tersenyum senang. Loretta mendesah. Matanya tak sengaja melirik ke arah taman. Dia terkejut. Pemuda bertopi itu terlihat duduk di bangku taman. Sudah lama tak terlihat, kini pria itu kembali muncul! Pemuda itu menggunakan jaket dan topi baseball seperti biasanya. Sebagian wajahnya tertutup oleh topinya. Loretta berdiri, memberanikan diri keluar dari kafe, dan mendekatinya. Entah kenapa pemuda itu kemudian berdiri dan menurunkan topi menutupi bagian wajahnya dan berlalu begitu saja sebelum Loretta sampai padanya. Loretta mematung, matanya terbelalak, pikirannya kembali lagi pada kejadian malam itu. Benarkah itu dia? ... "Benarkah kau mencari suami? Pada usiamu ini, nona Loretta?" Pria berusia 35 tahun itu membuka percakapan. "Benar tuan," "Billy. Panggil saja Billy." "Benar Billy. Aku mencari seseorang yang serius dan mau berkomitmen bersamaku." "Kenapa harus tergesa-gesa, Loretta, usia muda, wajah yang rupawan. Aku rasa kau tak membutuhkan biro jodoh. Banyak pemuda di luar sana bersedia menjadikanmu kekasih mereka." "Karena yang aku butuhkan bukan kekasih, tetapi ayah bagi calon bayiku." Pria itu tertawa terkekeh, "Ya. Tentu semua wanita ingin seorang ayah yang terbaik bagi calon bayi mereka. Apa kau mau aku menjadi calon ayah untuk bayimu? Apakah aku cukup layak?" Loretta mengangguk, "Jika kau bersedia, tentu saja aku tak akan menolak." Mereka menghabiskan makan malam mereka sebelum kemudian keluar dari restoran. Billy membuka pintu mobilnya untuk Loretta dan mengisyaratkan agar dia masuk. Tak begitu lama, mobil itu meluncur di aspal jalanan kota menuju pinggiran kota. Tiba-tiba mobil itu berhenti. Billy memarkirnya di pinggir jalanan sepi. Billy melepas sabuk pengamannya, mendorong kursinya ke belakang untuk memperluas gerakannya. Kemudian berkata, "Baiklah Loretta, aku akan menjadi calon ayah bayimu. Mari kita buat bayi kita." Billy membungkuk, mencium bibir Loretta yang duduk di sebelahnya. "Plak!!" Loretta mendorongnya, kemudian menampar wajahnya. "Loretta. Bukankah kau sedang mencari dan mengharapkan seorang bayi dan ayah baginya?" "Maaf, aku rasa kau salah memahami perkataanku. Aku sedang mencari calon ayah untuk bayi yang sekarang sedang berada di dalam rahimku!" Loretta kemudian membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Billy yang terkejut. ... Pagi itu di kafe. "Tidak apa-apa Loretta sayang. Billy tak menyangka kau sedang hamil. Itu saja. Apa kau mau mencoba calon kedua?" "Baiklah. Kita coba yang ini saja, kak. Semoga dia pria baik." " Dia pria seorang pengusaha sukses. Usianya 38 tahun. Tidak ada catatan buruk tentang dia. Rapi sekali. Hanya saja, dia sanggup bertemu selepas jam kerja. Apa mungkin malam ini, kau bisa?" "Baiklah kak. Atur yang terbaik menurut kakak." Loretta mengambil napas, menaruh tangan kanannya di meja dan menopang dagunya. Saat itu kembali dia melihat pemuda itu. Mengapa dia terus menguntitku? Apakah aku mengenalnya? Banyak pertanyaan muncul dalam benak Loretta. Dia merinding memikirkan hal-hal itu. Kemudian berusaha mengabaikan pikirannya dengan kembali bekerja. Saat sore menjelang, seorang pria dengan kemeja dan jasnya masuk ke dalam cafe. "Hot americano, please." suaranya terdengar berat. Loretta menoleh, tersenyum, "Dine in atau take away?" "Aku minum di sini." katanya sambil memberikan selembar uang. "Baik, ini kembalian anda. Silahkan ditunggu." Jawabnya tak lupa dengan senyumannya. Pria itu mengambil tempat duduk di pojok cafe. Dia mengambil ponselnya dan mengutak-atiknya. Tak lama kemudian, Loretta menghantar Americanonya. "Loretta bukan?" "Benar. Ada yang bisa aku bantu?" "Biro jodoh itu memberikanku alamat pertemuan di sini." "Ah... Pria dalam foto." Pria itu terkekeh dengan suara beratnya. "Sebentar, aku akan menutup cafe terlebih dahulu." Lorreta hendak membalik papan bertuliskan OPEN menjadi CLOSE ketika matanya bertemu tatap dengan pemuda di bangku taman. Tapi Loretta mengabaikannya kemudian. Loretta duduk di depan pria dari biro jodoh itu. "Hai Loretta, aku Simmons. Aku bekerja di bidang distribusi makanan. Yah, usaha kecil-kecilan." "Hai tuan Simmons." "Seorang wanita cantik dengan usia yang masih sangat belia. Bolehkah aku bertanya, bagaimana mungkin kau mengikuti pencarian jodoh?", katanya sambil mengangkat cangkir kopinya sambil menyesapnya. "Karena aku mencari suami secepatnya, suami yang mau menerimaku apa adanya, suami yang serius dan mau berkomitmen hidup bersamaku, tuan." "Ah, baiklah. Tentu akan sangat mudah bagimu menemukannya. Pertanyaan berikutnya, apakah kau tahu berapa usiaku? Dan apa kau tahu bahwa usia kita terpaut sangat jauh?" "Ya, aku rasa usia bukan suatu masalah bagi seorang suami untuk bertanggungjawab melindungi anak dan istrinya, tuan." "Apa itu artinya kau menerima, bahwa usia kita bukan suatu masalah?" "Tentu saja." "Baiklah. Sekarang kau boleh memanggilku dengan nama, karena usia bukanlah suatu masalah." "Ya, Simmons." "Loretta, bisakah kau ikut denganku? Ada yang harus aku perlihatkan kepadamu, sebagai calon istriku. Seperti aset-asetku yang juga akan kau miliki." "Apakah itu perlu?" "Tentu saja Loretta, bukankah kau ingin kita menikah secepatnya?" "Baiklah Simmons". Tak begitu lama untuk Loretta mempersiapkan diri. Simmons membuka pintu mobil ford mustangnya dan mempersilahkan Loretta untuk masuk. Loretta sempat melihat pemuda bertopi itu mengangkat wajahnya, saat Loretta masuk ke dalam mobil Simmons. Tapi Loretta mengabaikannya, dia benar-benar mengingatkannya pada kejadian yang paling ingin dia lupakan. Tak butuh waktu lama untuk Simmons tiba di apartemennya. Dia menunjukkan bahwa dia tinggal di penthouse di Richmounth Apartemen. "Mari kita masuk, Loretta."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD