Americano Please!

1088 Words
Loretta masuk ke dalam penthouse Simmons. Suatu ruang yang teramat sangat luas. Satu kata yang tepat. Indah. Perabot dengan kesan minimalis yang mewah dengan d******i warna hitam dan putih. Loretta menatap sederet foto dan beberapa pajangan di rak. "Ya, kau bebas melihat-lihat. Aku akan mandi sebentar." Kata Simmons kemudian. Ada sebuah foto, Simmons muda dan seorang perempuan seumuran dengannya. Terlihat senyum menghias di wajah mereka. Tangan Simmons memeluk pinggang wanita yang sedang memegang buket bunga itu. Terlihat sangat serasi. Tapi, apa yang terjadi pada wanita itu? Mengapa Simmons mencari penggantinya? Dan mengapa Simmon masih memajangnya? Bukankah artinya Simmons masih tidak ingin melupakannya? Begitu banyak pertanyaan dalam benak Loretta. "Ah, kau melihatnya." Kata Simmons dengan tubuh berbalut handuk. "Dia adalah cinta pertamaku." "Apakah dia istrimu?" "Dia, adalah calon istriku. Cinta pertamaku. Dia sama sepertimu." "Sepertiku, Simmons?" Simmons berjalan mendekati Loretta. "Sama sepertimu. Mencari pasangan untuk berkomitmen, hidup bersama." "Tapi, bukankah memang seperti itu seharusnya, Simmons. Semua wanita menginginkan hubungan serius dan tak ada satu wanita baik-baik pun menjalim hubungan hanya untuk suatu permainan." Simmons mendekat pada Loretta kemudian berbisik di telinganya, "tapi tak begitu denganku, Loretta. Seperti saat ini, aku sangat menginginkan satu permainan denganmu, sayang." Simmons memegang pinggang Loretta dengan kedua tangannya. "Simmons, apa maksud..." pertanyaan yang tak sempat diucapkan oleh Loretta karena Simmons dengan cepat membungkamnya dengan melumat bibirnya. Menciumnya dengan penuh gairah. Tangannya memegang pinggang Loretta dengan semakin kencang. Dan mulai meraba dengan liar. Loretta meronta, mundur sampai akhirnya tanpa sengaja dia menabrak sebuah guci yang cukup besar. "Prank!" "Simmons, kumohon. Jangan lakukan hal yang akan membuatmu menyesal." Simmons tertawa terkekeh. "Kenapa harus menyesal, sayang. Mendapatkan gadis muda secantik dirimu adalah anugerah, hal yang tak boleh di sesali." Katanya sambil kembali mendekati Loretta. Loretta mundur dan semakin terpojok ketika tiba-tiba terdengar suara bel pintu. "Damn!" Simmons mengumpat. Badannya berputar, mengintip dari lubang pintu sebelum kemudian membuka pintunya. Pemuda berjaket dengan topi baseball itu! Tanpa membuang kesempatan, Loretta mendorong tubuh Simmons yang membelakanginya ke arah pemuda bertopi baseball itu. Melarikan diri secepatnya! Memencet tombol turun dan dengan cepat memencet tombol nya ke lantai dasar. Terengah-engah lari menyusuri jalanan. Pemuda dengan topi baseball itu berlari mengikutinya setelah berhasil membuat Simmons pingsan dengan uppercut yang diberikannya. Setelah berhasil menyusulnya, ia mulai menjaga jarak. Pemuda itu ingin menjaganya tanpa menakutinya. Loretta berhenti, mengatur napasnya, lalu duduk di kursi halte bus. Sendirian. Air matanya kembali menetes, walaupun dia berusaha untuk menahannya. Pemuda itu menyelinap duduk di belakangnya. Perlahan dia mendengar kata-kata Loretta, sambil menangis tersedu, "Ibu, aku harus bagaimana. Tolong aku, ibu. Bagaimana aku dapat membesarkan anak dalam perutku ini tanpa sosok seorang ayah." Pemuda itu terkejut, hatinya terasa pedih yang teramat sangat. Gadis pujaan hatinya telah sangat menderita karena perbuatan yang tak disengajanya. Dia sangat menyesal. Apakah mungkin Loretta mengampuninya? Apakah masih ada kesempatan baginya mendapat gadis pujaannya itu? ... Dragonflies caffee, pagi itu. "Oh, Loretta sayang. Syukurlah tak terjadi hal yang buruk padamu. Tak kusangka, pria bermartabat seperti dia akan berbuat seperti itu." "Kakak, sepertinya aku tak ingin mengikuti perjodohan ini. Sebaiknya aku besarkan bayi ini sendiri saja." "Tapi kenapa, Loretta? Jangan kau anggap semua pria seperti mereka yang hanya menginginkan tubuhmu. Hanya suatu kebetulan saja, kau bertemu pria-pria seperti mereka." "Sudahlah kak. Semakin banyak aku bertemu dengan pria semacam ini, semakin aku tak ingin mencari sosok ayah untuk calon bayiku." "Yah... . Baiklah. Terserah padamu saja. Aku mendukung apapun keputusanmu, Loretta sayang." Lagi-lagi Gina menyerah setelah tak berhasil membujuk Loretta. Pukul 4 sore. Cahaya matahari mulai beralih ke ufuk barat, terlihat sangat menyilaukan, saat seorang pemuda dengan kemeja ungu yang sangat rapi dipadukan dengan setelan jas hitam pekatnya masuk ke dalam kafe. "Americano please!" Katanya, senyum tersimpul di wajahnya. Loretta membalas senyumannya, "Take away atau dine in? " "Dine in, miss...?" "Loretta." Sambungnya memperkenalkan diri. "Baik, silahkan di tunggu." Kata Loretta setelah menerima selembar uang pembayaran. Pemuda itu menganbil tempat duduk di sudut ruangan. Tapi itu tak menyurutkan beberapa gadis SMA yang kebetulan duduk menghabiskan waktu di sana untuk melirik dan tersenyum. Ya, pemuda itu sangat menawan. Kulitnya putih bersih, badannya yang tinggi tegap dengan d**a yang bidang. Tentu saja, semua wanita normal akan melirik untuk sekadar melihatnya. Dan mungkin berharap untuk mengenal atau bahkan memilikinya! Loretta membawakan segelas americano pesanannya. Meletakkannya di meja, di hadapannya. "Ah, miss Loretta, bisakah aku mendapat 2 buah croissant sebagai kudapan?" "Segera," jawab Loretta tak lupa dengan senyumannya. Tak lama kemudian Loretta membawakan croissant pesanannya dalam 1 piring kecil. Pemuda itu tersenyum. Sebelum Loretta beranjak dari tempatnya, pemuda itu menyodorkan tangannya. "Namaku Gavriel" Spontan para gadis yang mencuri-curi pandang merasa iri pada Loretta. Bagaimana bisa, mereka dengan penampilan yang lebih menarik dan usia lebih muda bisa terkalahkan dengan seorang pelayan kafe! "Ok, Mr. Gavriel. Selamat menikmati pesanan anda. Aku harus melayani yang lain juga." Ucap Loretta, memohon diri tak lupa dengan melempar senyuman, sebelum kemudian meninggalkannya. Demikianlah, hari-hari berikutnya Gavriel tak luput selalu datang untuk memesan secangkir americano! "Hot americano, Gavriel." Kata Loretta sore itu. "Terimakasih," katanya. "Loretta, apa kita bisa keluar malam ini. Aku ingin sekali nonton, tapi tak nyaman rasanya jika harus sendirian. Film fantasi yang sangat bagus. Judulnya Avatar," kata Gavriel separuh memohon. Loretta tertawa terkekeh. "Baiklah Gavriel. Aku off setelah jam menunjuk pukul 5 sore, Gina akan ada di sini menggantikan aku." "Yess! Aku akan tetap di sini menunggumu. Bawakan aku croissant seperti biasanya. Aku suka croissant di sini." Katanya tersenyum, sangat senang. Akhir-akhir ini, setiap sore kafe dipenuhi oleh pengunjung yang rata-rata adalah para gadis! "Ah... aku rasa, aku perlu mencari seorang asisten lagi, Loretta," kata Gina. "Kafe ini semakin ramai pengunjung. Kita berdua tidak sanggup mengatasinya berdua." Katanya di sela-sela melayani pembeli. "Baiklah kak." "Kak, Gavriel mengajakku menemaninya nonton film. Aku tak tega untuk menolaknya." Bisik Loretta sambil tertawa. "Ya, bersenang-senanglah Loretta. Memang ini adalah usia bagi remaja sepertimu bersenang-senang." Kata Gina tersenyum. Gina berjalan keluar, menempelkan poster lowongan di pintu masuk kafe. Sesaat kemudian seorang gadis muda berhenti untuk membacanya. Seorang gadis muda, berkulit putih dan mata birunya dengan rambut blonde panjangnya melangkah memasuki kafe. Gadis muda itu melangkah dengan penuh percaya diri dengan t-shirt dan rok mininya. "Permisi, apakah benar kafe ini membutuhkan karyawati?" "Ah ya," sahut Gina. "Bisa kulihat kartu pengenalmu?" Lanjutnya. Gadis itu menyerahkan kartu pengenalnya. "Marry Kingston. Nama yang bagus. Umur, 22 tahun. Semoga keberuntunganmu juga bagus. Baik. Kau boleh datang besok untuk mulai bekerja, Marry." Gina menjabat tangan Marry. Marry berbalik untuk keluar dari pintu ketika pandangannya terperangkap pada sosok yang mempesona di sudut ruangan. Dan entah kenapa dalam hatinya seperti ada drum yang sedang dimainkan. Melodi indah dalam hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD