Sang Penggoda

1040 Words
"Loretta, film yang bagus bukan? Benar-benar ending yang tak dapat di tebak." Kata Gavriel. Berjalan berdampingan dengan Loretta saja telah cukup membuatnya bahagia. Apalagi malam ini, luar biasa. Nonton berdua dengan Loretta. "Iya. Bagus. Tehnik animasi nya juga keren. Ah, akhir yang baik. Jake bisa hidup bersama Neytiri. Ah kehidupan." Kata Loretta menghembus napasnya dalam-dalam. Tiba-tiba tangan Gavriel menggenggam tangan Loretta. Loretta terkejut, menoleh pada Gavriel. Tapi Gavriel dengan pandainya menyembunyikan perasaannya dengan wajah tak berdosa, dia bertanya, "memang apa ada yang salah dengan kehidupan, Loretta?" "Ya, kehidupan nyata tak semanis cerita. Semua hal buruk datang bertubi-tubi. Tapi, ya sudahlah." Jawabnya. Kembali senyuman tersungging di sudut bibirnya. "Sekarang kita akan kemana?" "Sudah malam. Sebaiknya kita pulang, Gavriel." "Ah ya. Pulang. Bagaimana kalau kita mampir sebentar untuk membeli kudapan. Aku sangat lapar." "Baiklah," kata Loretta. Mereka memasuki sebuah minimarket. Membeli beberapa kudapan dan minuman kaleng. Setelah itu menikmatinya bersama di bawah cahaya bulan. ... Pagi itu di Dragonflies caffee. Seperti biasa, Loretta datang dan segera membersihkan seluruh ruangan sebelum kafe dibuka. "Loretta, bagaimana acara semalam, menyenangkan?" Tanya Gina. "Ya kak. Sudah sangat lama semenjak aku nonton film seperti itu. Terakhir, bersama kedua orangtuaku." "Oh, tentu sangat menyenangkan. Apa semua baik-baik saja?" "Ya kak," jawabnya tersenyum. "Baiklah. Aku mengatur agar pegawai baru, masuk hari ini. Sementara kau bisa ajarkan semua pekerjaan pada dia. Setelah dia bisa mengurus semuanya, kita akan mencoba mengatur shift supaya kamu tidak perlu seharian di kafe." "Siap kak." Katanya. "Namanya Marry. Sebenarnya aku terkejut melihat alamat di pengenalnya. Sepertinya dia bukan seseorang yang membutuhkan pekerjaan. Entah apa alasannya dia ingin bekerja di sini," lanjutnya. Tak berapa lama kemudian, masuklah seorang gadis, yang kemudian menyapa mereka. "Selamat pagi. Apakah aku terlambat di hari pertamaku?" Senyuman merekah di bibirnya. "Selamat pagi, Marry. Oh tidak. Kau bisa membantu Loretta, karena sebentar lagi aku akan membuka kafe nya," "Dan Marry, tugasmu hari ini adalah menyerap ilmu dari Loretta. Tentang pembuatan, penyajian dan pelayanan pembeli. Bersemangatlah." Gina berjalan ke depan pintu kafenya, dan membalik papan bertuliskan CLOSE menjadi OPEN. Tak berapa lama, para pengunjung berdatangan. Loretta tampak cekatan melayaninya dibantu oleh Marry. Ya, dia mulai belajar. Ternyata Marry cukup cerdas untuk menyerap semua ilmu Loretta. Dia segera bisa meracik menu kopi yang terdapat dalam daftar pesanan. Tentu masih dengan pengawasan Loretta. Loretta merasa cukup puas. Sebentar lagi, Marry akan siap untuk bekerja tanpa pengawasan. Dia akan cukup waktu untuk beristirahat. Karena kondisi perutnya yang mulai terlihat membuncit. Waktu menunjukkan pukul 4 sore, seperti biasanya Gavriel datang dan duduk di sudut ruang kafe. Seolah-olah kursi itu memang ada untuk dirinya. Loretta tak menyadari kedatangannya, ketika Marry menghampiri Gavriel. "Bisa saya bantu pesanannya?" "Americano, seperti biasanya." Lalu dia tersenyum menyodorkan selembar uang kertas. Marry tersenyum tersipu-sipu. "Ini pria yang ramai dibicarakan itu. Benar dia kemari setiap pukul 4. Ah, dia sangat tampan. Betul-betul tampan. Aku harus mendapatkannya." Kata batinnya. "Baik. Segera saya antar." Jawabnya. Marry meracik sendiri Americanonya, sementara Loretta masih sibuk dengan antrian beberapa pengunjung wanita seperti biasanya. "Secangkir hot americano." "Terimakasih." Kata Gavriel singkat. "Marry. Marry Kingston," katanya sambil memberikan tangannya. Mengajak berkenalan. "Ok. Terimakasih Marry." "Kembali kasih. Dan nama anda?" "Namaku Gavriel." "Ok Gavriel. Senang berkenalan denganmu." Jawabnya dan memberikan senyumannya yang paling menggoda. Gavriel tidak menanggapinya. Matanya kembali tertuju pada laptop di depannya. Ya, seperti biasa, dia akan menghabiskan waktu yang cukup lama di kafe itu. Loretta melihatnya asik dengan laptopnya dan sudah tersaji pesanannya. Sehingga dia urung untuk menyapanya. Marry mendadak sibuk. Dia mengangkat cangkir, gelas dan piring kotor dari meja. Menyapu dan pel kotoran sesedikit apapun. Hanya untuk menarik perhatian Gavriel. Gavriel hanya meliriknya, tanpa ekspresi. Dia terus berusaha mencari perhatian Gavriel. Ah, sangat dingin. Apakah aku setakmenarik itu baginya? Keesokannya tetap berlangsung sama, Marry dengan sikap kekanak-kanakannya berusaha menarik perhatian Gavriel. Saat Gavriel masuk ke dalam kafe, Marry menabraknya. Dia sengaja berjalan dengan menunduk. Kepalanya terbentur d**a bidang Gavriel. Dan tentu saja pesanan yang dibawanya tumpah ke setelan jas Gavriel. "Oh. Maaf Gavriel," katanya, mengambil saputangan dari dalam kantung apronnya lalu berusaha membersihkan tumpahan coffee latte dari setelah jas yang dikenakan Gavriel. Gavriel merasa risih. Lalu dia segera.masuk ke toilet untuk membersihkan dirinya. Sekarang dia duduk di mejanya, dengan kemejanya, tanpa menggunakan jasnya. "Ah, dia memang sempurna," kata Marry dalam hati. Segera dia membuat secangkir americano setelah melihat laki-laki itu duduk di tempat biasanya, di sudut ruangan kafe. "Maafkan aku Gavriel. Aku tidak sengaja. Kafe sangat ramai, aku capek dan kurang fokus." Katanya sambil meletakkan cangkir americanonya. "Terimakasih. Tidak apa Marry." Ya, apapun itu kenapa Gavriel tetap tak berubah. Sikapnya tetap sangat dingin. Marry yang merupakan gadis populer merasa itu sangat menjatuhkan dirinya. Dia merasa semakin tertantang. Bagaimana bisa, disaat banyak laki-laki memujanya, tentang wajahnya yang cantik, bibir sexy nya dan hidungnya yang tinggi. Badannya yang tinggi dan langsing bak model. Kulitnya yang putih bersih. Apa sebenarnya kriteria yang Gavriel inginkan yang tidak dimilikinya? Keesokan harinya, pada jam yang sama, Gavriel duduk di tempat yang sama. Loretta sudah mengantarkan segelas americano dan sebuah croissant hangat di mejanya. Gavriel kembali sibuk dengan laptop di mejanya. Tiba-tiba Marry tersandung kaki kursi yang berada di hadapan Gavriel. Ah, kembali setelan jas Gavriel menjadi korban tumpahan coffe mocca yang dibawanya. Kali ini Gavriel mendengus kesal. Lengan jasnya menjadi kotor. Tak sempat Marry meminta maaf, Gavriel telah masuk ke dalam toilet pria. Dia sedang melepaskan jasnya, melonggarkan dasinya dan mencuci tangannya ketika tiba-tiba Marry menyusulnya masuk ke dalam toilet! Tiba-tiba Marry memeluk punggungnya dari belakang. "Gavriel, maafkan aku. Aku tak sengaja," "Tidak apa-apa. Aku hanya kesal karena lagi-lagi jasku terkena tumpahan." Kata Gavriel, dia membalikkan badan karena risih dipeluk oleh Marry. Tapi sebaliknya, setelah membalikkan badan, Marry menggantungkan kedua tangannya ke leher Gavriel dan menarik kepalanya untuk kemudian mencium bibirnya. Gavriel terkejut atas perlakuan Marry. Di dorongnya tubuh gadis cantik itu. "Marry, apa yang kau lakukan?" "Gavriel, aku sungguh menyukaimu. Tak bisakah kau menjadi milikku?" Kata Marry dengan gerakan tubuh yang mengintimidasi, dia semakin mendekat pada Gavriel. Gavriel melihat gadis itu, dari ujung kaki hingga ujung rambut. Bukanlah seorang gadis yang buruk, kenapa dia bertingkah seperti ini? Marry membuka sebagian kancing kemejanya, sehingga belahan di bagian dadanya terlihat sempurna. Sesuatu yang tak dapat di tolak oleh lelaki normal! "Apa yang kau lakukan. Marry, hentikan! " Teriak Gavriel ketika Marry mulai melepas pakaian dalamnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD