Marry mulai melepas pakaian dalamnya ketika Gavriel pergi meninggalkannya dengan marah.
Loretta berlari ke arah toilet begitu mendengar kegaduhan. "Ada apa ini." Dia melihat Gavriel keluar dari toilet dengan membawa jas di tangannya. Wajahnya nampak kesal, dan dia dengan terburu-buru menyimpan laptopnya ke dalam tasnya.
Loretta kebingungan, dia membuka toilet sejenak, melihat Marry yang terduduk di lantai dengan posisi pakaian setengah terbuka sedang menangis.
Loretta meninggalkannya dan mengejar Gavriel yang beranjak pergi meninggalkan kafe.
"Gavriel, apa yang terjadi?"
"Maafkan aku, Loretta. Sebaiknya kau bertanya padanya. Apa yang akan dia lakukan padaku? Sungguh perempuan yang menjijikkan!"
"Cukup untuk hari ini, aku akan menenangkan diri dan kembali besok." Katanya sambil menutup pintu mobilnya.
"Baik Gavriel. Hati-hati di jalan."
...
"Apa yang sebenarnya terjadi, Marry?" Gina duduk di hadapan Marry yang masih menangis tersedu.
"Dia, mau memperkosaku."
Gina berdiri. Membelai rambut Marry. Kemudian memeluknya sambil menepuk punggungnya dengan lembut supaya tangis Marry menjadi reda.
"Sungguh mengerikan." Kata Loretta teringat kisahnya sendiri di lorong, saat itu. Tapi tiba-tiba dia merasakan ada hal yang aneh. Seandainya memang terjadi pelecehan, mengapa Gavriel berteriak? Mengapa Gavriel keluar dengan begitu marahnya?
"Marry. Boleh aku bertanya, saat itu aku mendengar Gavriel berteriak. Lalu aku melihat dia keluar dari toilet dengan wajah kesalnya. Dia marah. Apa yang sebenarnya telah terjadi?"
"Bukankah seharusnya Gavriel tidak berteriak seandainya dia mempunyai maksud buruk. Dan mengapa dia keluar dari toilet, justru bukan korbannya?"
Marry menangis. Dia malu untuk mengakui perbuatannya. Dia menyesal. Sangat menyesali perbuatan konyolnya. Ah, dia memang lelaki yang sangat menarik. Tapi apa alasannya, mengapa dia tak tergoda pada kemolekan tubuhnya? Apakah dia tak tertarik pada wanita? Banyak pertanyaan dalam benak Marry.
"Ya, aku menyukainya. Aku berusaha menarik perhatiannya. Tapi dia tak tertarik padaku," katanya mengakui segalanya dengan tersedu-sedu.
"Kak Gina, sebaiknya aku keluar dari pekerjaan ini. Aku terlalu malu untuk tetap bekerja di sini dan bertemu dengannya, kak."
Gina mengambil napas dalam-dalam. Berpikir sebelum kemudian memutuskan.
"Baiklah Marry. Sebenarnya aku sudah mulai terbiasa denganmu. Bagiku kalian berdua adik manis buatku. Karena aku sendiri hidup sebatang kara tanpa keluarga."
"Tapi aku akan mengutamakan perasaanmu. Memang benar, entah apa yang akan kau rasakan jika bertemu dengan Gavriel esok hari. Baiklah, kau boleh mengundurkan diri." Kata Gina sambil menepuk bahu Marry.
"Jangan cemas, Loretta. Bersabarlah, aku akan segera mencarikan penggantinya. Aku paham, kau tak mampu mengurus semuanya sendirian sekarang." Lanjutnya menjawab kerisauan hati Loretta.
...
Pagi itu di dragonflies caffee sangat ramai. Ketika Gina menyodorkan sebuah artikel di hadapan Loretta. "Inilah sosok wanita CEO Famous Garment" judulnya.
Loretta menoleh sebentar sebelum kembali meracik pesanan. Tapi setelah menyadari foto yang terpampang, dia tercengang.
"Jadi kak, Gavriel adalah,"
"Ya. Tapi mengapa di artikel terpampang foto kalian sebagai pasangan? Apakah tidak akan menjadi masalah bagi Gavriel?"
"Entahlah kak. Tapi bukan suatu masalah besar buatku. Siapalah aku ini, kak." Katanya sambil tersenyum. Menaruh kopi pesanan dalam nampan dan pergi mengantarnya.
...
Sore menjelang, seperti biasa jam 4 sore, Gavriel masuk ke dalam kafe. Dia menggunakan kaos hitam dengan setelan jas berwarna abu-abu. Kontras yang menarik, membuatnya terkesan maskulin. Dia memberi tanda dengan tangannya sambil tersenyum pada Loretta.
Loretta dengan cekatan meracik americano untuknya. Lalu mengantarnya ke meja di sudut ruangan.
Setelah meletakkan secangkir americano, dia tersenyum dan beranjak pergi sebelum tiba-tiba tangannya di pegang oleh Gavriel.
"Loretta, bolehkah aku meminta waktumu? Sebagai seorang teman. Aku perlu teman untuk mencurahkan perasaanku saat ini." Kata Gavriel memohon.
Loretta tersenyum dan mengangguk. "Aku off setelah jam 5. Gina akan menutup kafe lebih awal hari ini."
"Baiklah. Aku akan menunggumu." Katanya sambil melirik ke arah jam di dinding, mengharap waktu segera berlalu.
Gina sangat sibuk hari ini, ia menyadari jika Loretta tak akan mampu mengatasi kafe yang biasanya lebih ramai pengunjung pada malam hari sendirian. Apalagi dengan keadaan perutnya yang mulai memasuki bulan ke enamnya.
Tepat pukul 5, Loretta membalik papan bertuliskan OPEN. Dan bersiap-siap untuk pulang. Tentu saja, bersama Gavriel.
Gavriel membuka pintu mobilnya, dan mempersilahkan Loretta untuk masuk. Tak berapa lama, sampailah dia di sebuah restoran. Seorang waiters mengajaknya masuk ke dalam ruangan khusus yang sepertinya telah dipersiapkan oleh mereka. Setelah mengantar, waiters itu menutup kembali ruang itu.
Ada meja panjang di dalamnya. Sebuah lilin dan buket bunga. Lampu gantung yang indah. Dan beberapa pot bunga menghias ruangan. Gavriel menarik kursi untuknya, dengan patuh Loretta duduk.
"Aku terkejut, kau mengajakku kemari, Gavriel. Tentang apa ini?" Kata Loretta.
Gavriel tersenyum, "Kau sudah melihat artikel yang sedang ramai hari ini?"
"Ya. Apa itu mengganggumu, Gavriel? Kalau ya, sebaiknya kita jangan bertemu. Karena itu akan terulang lagi. Aku tak mau,"
"Ya, aku terganggu jika kau mengatakan hal yang seperti ini." Potongnya.
"Apa kau terkejut dengan berita itu? Apa kau terganggu, Loretta?"
"Tidak, berita itu tak ada artinya buatku. Hanya aku baru menyadari bahwa kau adalah"
"Ya, baru saja aku menerima tugas ini dari ayahku. Aku menerimanya karena seseorang yang harus aku lindungi."
"Siapa dia?"
"Cinta pertamaku." Katanya tersenyum getir. "Dulu aku menolak, karena aku ingin hidup bebas. Tak ingin rasanya terbebani begitu banyak tugas dan kewajiban. Saat itu aku bebas menjalani hidupku. Tapi beberapa saat yang lalu aku sadar. Aku tak kan bisa menjaga orang yang kukasihi hanya dengan kebebasanku. Tanpa kekuatan dan kekuasaan, aku tak kan bisa menjaga dan membahagiakannya."
Seorang waiters masuk, menyajikan dua buah piring steak yang masih panas. Dia menuang saosnya diatasnya. Kemudian ditaruhnya dua gelas mojito di atas meja. Dia membungkuk dan kembali keluar sambil menutup pintu.
"Makanlah Loretta. Aku sudah cukup menuangkan isi hatiku." Kata Gavriel. Sambil mengangkat gelas mojitonya untuk mencicipi kesegarannya.
"Lalu, apakah kekasihmu tahu semua hal yang telah kau lakukan untuk dirinya?" Tanya Loretta sambil mengangkat garpu dan pisau di tangannya dan mulai memotong daging steak di depannya.
"Ya, kurasa dia akan tahu."
"Lalu apa yang dia pikirkan tentang hubungan kita?"
"Tidak apa-apa. Kau tidak perlu memikirkan hal itu," katanya.
"Loretta, kau boleh juga mengungkapkan perasaanmu. Aku akan mendengarkanmu."
Loretta terkejut mendengar perkataan Gavriel. Perlukah dia bercerita? Ah, aku tidak memerlukan simpati dari dia. Aku tak ingin mengusik hubungannya dengan kekasihnya. Tapi, apa salahnya dengan bercerita pada teman, sahabat? Siapa tau dia bisa membantuku, mengatasi masalahku? Tapi apa masalahku, sedangkan sang penguntit sudah lama sekali tak tampak. Kapan terakhir kali dia terlihat? Ah, di penthouse Simmons. Apakah dia baik-baik saja? Ah, sudahlah.
"Loretta, kau melamun? Apakah ada masalah?"