"Kakak mencari pegawai?" Seorang siswa laki-laki, pelajar SMU tiba-tiba berada di hadapan Gina dan Loretta.
"Kau ingin melamar, dik?"
"Iya kak. Aku melamar part time kak. Setelah aku pulang sekolah, bolehkah aku bekerja di sini?"
"Apakah orangtuamu tidak keberatan jika kau seharian tidak di rumah?" tanya Gina.
"Orangtuaku meninggal sebulan yang lalu. Aku tinggal sendirian. Tak akan lama uang tabunganku akan habis, jika aku tidak segera mendapatkan pekerjaan untuk biaya hidupku."
"Berapa usiamu?"
"16 tahun kak"
"Dan namamu?"
"Stanley Adams."
"Baik Stanley selamat bergabung. Kau bisa mengganti pakaian seragammu, dan memakai apron di ujung ruangan itu. Tugasmu membantu membersihkan meja yang telah di gunakan pelanggan dan menyajikan pesanan mereka yang telah disiapkan oleh Loretta."
"Baik kak."
"Ah, Stanley yang malang. Aku rasa pekerjaan ini terlalu berat baginya. Semoga ada seseorang lagi yang mau melamar, untuk membantu tugasnya."
...
"Tuan muda Cortier, ayah anda sangat cemas." Amanda menyambut kedatangan Gavriel yang langsung melewatinya dengan langkah-langkah panjangnya.
"Aku tahu, Amanda. Akan segera aku temui di ruang kerjanya!" Jawabnya tanpa mengurangi kecepatan langkahnya menuju kamarnya di lantai dua.
Gavriel membuka pakaiannya, dan menggantinya dengan setelan jas rapi lainnya. Tak berapa lama kemudian ia kembali menuruni anak tangga menuju ke kantor ayahnya.
Gilbert Cortier duduk tenang di mejanya memeriksa setumpuk berkas. Ia mengangkat wajahnya sejenak melihat anak tunggalnya masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Ayah."
"Duduklah. Darimana kau semalam?"
"Tolonglah ayah. Aku bukan lagi anak kecil."
"Bukan anak kecil, tapi kau masih adalah tanggung jawab ayah."
"Ayah, aku menerima tanggung jawab sebagai CEO, tapi bukan berarti kau bisa merampas kebebasanku."
"Bukankah kau sudah berjanji, aku bebas memilih langkahku, asal aku tetap dapat menyelesaikan tugas dan tanggungjawabku sebagai seorang CEO?"
"Baiklah." Kata ayahnya, lalu menyodorkan setumpuk berkas yang sedang ia pelajari.
"Ini adalah pengajuan mode terbaru yang akan ditampilkan pada pameran musim yang akan datang. Masing-masing sketsa ini adalah perjuangan para designer muda. Dan tugasmu, adalah membaca pasar, model dan bahan yang diperlukan. Lalu pilih sketsa yang sesuai."
"Perhatikan baik-baik. Jangan sampai kau membuat keputusan yang salah." Gilbert meninggalkan ruang kerjanya setelah menepuk punggung Gavriel.
Gavriel diam sejenak, sebelum kemudian dia membawa setumpuk berkas itu ke atas. Ke meja kerja di kamarnya. Kali ini dia harus membuktikan pada ayahnya, dia mampu bertanggungjawab atas pekerjaan dan dirinya sendiri!
Dikumpulkannya data-data penjualan. Data-data kain bahan. Dia melakukan penghitungan, pengamatan akan mode yang di gemari. Mensinkronkannya.
Benar-benar pekerjaan yang menguras tenaga, waktu dan pikiran! Waktu? Astaga. Dia telah berjanji menjemput Loretta tepat pukul 5 sore.
Gavriel mulai memilih design yang layak dan tidak layak dibuat. Dan sepertinya design yang harus dia eliminasi hanya sedikit.
"Aargh...! Semuanya design yang bagus. Susah untuk mengeliminasi. Aku harus memilih ulang dan ulang lagi. Tapi bagaimana dengan janjiku." Pikirannya menjadi kacau antara tugas dan tanggungjawabnya. Tanggungjawab untuk menepati janjinya.
Gavriel meringkas semua berkasnya dan merapikannya ke dalam sebuah tas. Dia bergegas keluar menuruni anak tangga ketika berpapasan dengan ayahnya.
"Kau mau kemana?"
"Aku pergi sebentar ayah, ada sesuatu yang harus aku selesaikan." Gavriel menjawab tanpa menoleh pada ayahnya.
Dia segera masuk ke dalam mobil sport nya dan memacunya dengan cepat. Dalam benaknya Loretta sudah menunggunya dengan cemas.
Ketika dia sampai, dilihatnya wanita pujaannya itu sedang bercakap-cakap dengan Stanley.
"Ah, Stanley. Kenalkan ini Gavriel."
"Stanley baru bergabung dengan kita."
"Bagaimana, kita bisa ...?"
"Ah, maaf Gavriel. Stanley masih perlu bimbingan. Aku tidak mungkin meninggalkannya. Gina sedang keluar, dia ada keperluan."
"Ah, baiklah. Tolong berikan americano untukku seperti biasa." Gavriel membawa tasnya dan duduk di sudut ruangan seperti biasanya.
Loretta segera bergerak menyeduh pesanan Gavriel dan mengantarnya sendiri pesanannya. Dia melihat setumpuk kertas design di mejanya.
"Wah, ide fashion yang luar biasa!" kata Loretta mengangkat sebuah kertas.
Gavriel melirik, melihat design itu sekali lagi dengan lebih teliti.
"Ya. Design yang cukup menarik, Loretta. Sebaiknya kau duduk dan ikut membantuku memilihnya. Aku butuh setidaknya 4 design lainnya untuk di pamerkan di musim semi yang akan datang."
"Dengan senang hati, Gavriel."
"Loretta, bisakah kau menceritakan tentang pegawai baru itu? Bagaimana Gina memilih seorang siswa sekolahan sebagai pegawainya?"
"Gavriel. Stanley anak yang malang. Dia bernasip sama denganku. Hidup sebatangkara. Dia butuh bekerja, demi kebutuhan hidupnya. Jadi dia ingin bekerja sebagai tenaga part time."
"Kali ini semoga Gina tidak dimanfaatkan karena kebaikan hatinya."
"Gavriel, lihat ini. Sangat menarik. Designnya begitu sexy bertema vintage. Dengan tema naga di rok A linenya. Ada pola cross yang sexy dipunggungnya. Ini, harus kau pertimbangkan." kata Loretta fokus pada lembaran-lembaran design di atas meja.
"Bagaimana kau bisa mendapat sekian banyak design yang luar biasa, Gavriel?"
"Ayahku selalu mengadakan kompetisi untuk memberi kesempatan bagi designer amatir. Sekaligus agar dia mendapatkan ide segar untuk pameran tahunannya."
"Dan kau?"
"Ya, kali ini aku sebagai CEO menggantikan tugasnya."
Mereka fokus pada pemilihan design, sebelum tiba-tiba Gavriel berkata, "Loretta, atas pengalaman yang sudah terjadi, apakah Gina melakukan pengecekan identitas Stanley?"
"Entahlah."
Dalam hati Loretta membenarkan. Beberapa pengalaman sebelumnya Gina merekrut karyawannya hanya berdasarkan intuisinya. Dan hasilnya, mencelakai pelanggannya, dalam hal ini Gavriel tentunya!
"Ah. Fokus Loretta, Gavriel ingin kau membantunya memilih design. Jangan memikirkan hal lain terlebih dulu!" batinnya.
...
Jam menunjukkan pukul 9, ketika Loretta menutup kafe. Dan mengijinkan Stanley pulang. Loretta berjalan perlahan-lahan untuk menjaga jarak. Ia mengikuti langkah kaki Stanley.
Stanley berjalan menyusuri sebuah jalan kecil dengan beberapa toko yang telah tutup. Hingga beberapa saat kemudian menghilang di sebuah persimpangan.
Loretta mencarinya, dan melihat seorang anak laki-laki dengan tas ranselmya sedang berjalan masuk ke jalan sempit di balik bangunan minimarket. Loretta kembali mengikutinya dengan lebih berhati-hati.
Anak itu berhenti di depan sebuah rumah, rumah tua yang terlihat tak terawat dengan penerangan yang sangat minim. Seorang laki-laki berbadan besar keluar menyambut anak laki-laki berransel itu dengan suara keras.
"Masuk! Kemana saja kau pergi hingga selarut ini!"
"Mencari uang, paman."
"Mana uang setoran hari ini, aku perlu pergi membeli beberapa minuman!"
Terdengar lagi suara bentakan.
"Hanya sebesar ini! Dasar anak pembawa sial! Bahkan orangtuamu pergi meninggalkanmu."
"Ampun paman!", lalu terdengar beberapa benda seperti terbentur keras.
"Kau. Besok kau harus membawa lebih banyak lagi. Jika tidak ...!" kembali terdengar beberapa benda jatuh terbentur.
Ah, Stanley yang malang. Loretta terkejut. Dia ingin berlari menolong anak itu, ketika tiba-tiba seseorang memegang pergelangan tangannya.