Semua Akan Baik Baik Saja

1049 Words
"Anakmu?" Gilbert terkejut. "Ya ayah. Suatu kecelakaan. Dan semuanya adalah salahku." kata Gavriel. "Kecelakaan? Apa maksudmu. Mengapa kau tak segera menikahinya. Bahkan dia sudah tak dapat menyembunyikan kehamilannya." "Karena semuanya adalah salahku, ayah. Dia tak pernah tau, aku adalah ayah dari bayi yang dikandungnya." "Tapi, bagaimana bisa." "Dia adalah cinta pertamaku, ayah. Ibunya adalah teman dari ibu. Kami bertemu saat masih kecil, saat itu dia berusia 6 tahun dan aku 13 tahun." "Aku menguntitnya. Setiap hari memastikan dia pulang dengan selamat. Hingga malam itu, aku menguntitnya dalam keadaan mabuk. Dan terjadilah kejadian itu." "Baik. Aku mengerti sekarang. Aku harap kau segera menyelesaikan masalah yang sudah kau buat." "Semakin banyak skandal yang kau buat, akan memperburuk citra Cortier di masyarakat. Dan kau tahu akibatnya bagi perusahaan kita, bukan." ... "Stanley. Apa yang terjadi padamu!?" Gina berteriak saat anak remaja itu melangkahkan kaki memasuki kafe, berlari menyambutnya. Loretta terkejut. Wajah Stanley babak belur. Ada apa sebenarnya. Siapa yang melakukan hal sedemikian kejam pada remaja ini. Mata dan pipi kirinya lebam. Stanley tersenyum, "Tidak apa-apa kak." "Apa maksudmu dengan tidak apa-apa? Dengan wajah dan mata yang bengkak lebam seperti itu." protes Gina. Loretta datang membawa kompres dingin. "Nih. Kompres dulu, biar cepat pulih." "Terima kasih kak." "Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Stanley." "Hanya karena pamanku mabuk, kak. Dia memukulku dan wajahku terbentur meja." "Pernahkah kau melawannya Stanley?" kata Gina. "Tidak kak. Aku hanya perlu memberinya uang dan dia akan baik kembali." "Oh, Stanley. Sebaiknya kau melawan. Bahkan seekor semut yang lemah pun akan menggigit jika diinjak!" "Tapi dia adalah pamanku, kak. Dia adalah waliku." "Kau harus melawannya Stanley." "Tapi kak. Kalau aku melawan dan dia tak mau menerimaku lagi, aku benar-benar akan hidup sebatang kara." "Jangan takut Stanley. Ada kami di sini." kata Gina. "Baik kak." "Sekarang mari kita perkuat bukti secara hukum. Ayo ikut aku. Kita akan ke rumah sakit." ... "Bagaimana kak, apa semua sudah selesai?" "Ya, kita sudah mendokumentasikan semua bukti kekerasan dan aku juga telah melaporkannya." "Untuk sementara waktu, aku akan mengambil alih perwaliannya, sampai surat keterangan adopsi keluar." "Kakak serius mengadopsinya?" "Kurasa bukan hal yang sulit. Hanya tinggal beberapa saat hingga dia tidak memerlukan bantuan orang dewasa." kata Gina. "Kakak. Aku benar-benar bangga padamu. Aku senang sekali." Loretta tersenyum senang. "Senang sekali, apa ada yang aku lewatkan, teman-teman?" "Gavriel?!" "Aku sudah membaca artikel hari ini. Benar-benar skandal yang cukup mengejutkan. Apa kau tak apa-apa, Gavriel?" tanya Gina. Loretta terkejut. "Skandal apa kak?" Gina menyodorkan sebuah tabloid yang disimpannya dari dalam tasnya. "Maaf Loretta, aku tak sempat memberitahumu. Hari ini kita begitu teralihkan oleh kasus Stanley." Loretta terbelalak melihat sebuah gambar foto artikel yang sangat besar di sampulnya. Fotonya dengan Gavriel yang sedang melamarnya! Gavriel tertawa terkekeh, "Sudahlah. Untuk apa kau baca berita yang telah kau ketahui bahkan kau alami sendiri, Loretta." "Apa kau tidak terpengaruh dengan skandal ini, Gavriel?" "Aku akan lebih terpengaruh jika kemarin kau menolakku. Mungkin saat ini aku akan terpuruk dan mengunci diri di kamarku." katanya dengan tersenyum lebar. "Sekarang beritahu padaku. Apa berita besarmu?" tanya Gavriel. "Stanley, dia terluka. Dia di pukul kembali oleh pamannya." Loretta bercerita. "Ya, kami akhirnya membawa kasusnya pada yang berwenang. Tapi dengan begitu, Stanley jadi tidak mempunyai wali!" "Lalu? Apakah kau sudah mendapat solusinya?" tanya Gavriel. "Sudah. Aku akan mengadopsinya. Aku sedang mengajukan adopsi. Karena aku pikir tidak akan susah menjadi walinya. Usianya telah 16 tahun. Sebentar lagi dia sudah tidak memerlukan seorang wali, karena sudah dewasa." "Benar. Aku rasa memang itu keputusan yang terbaik. Aku mendukungmu." Kata Gavriel. "Loretta, aku akan menutup kafe lebih awal. Aku akan membawa Stanley bersamaku hari ini. Aku perlu membeli beberapa hal yang dia akan pakai di rumahku." "Baik kak." "Dan aku akan punya cukup waktu bersama Loretta." gumam Gavriel. "Maaf Gavriel, apa yang kau katakan?" tanya Loretta. "Aku akan punya waktu yang cukup untuk memilih perlengkapan bayi kita. Kita pergi berbelanja, Loretta." kata Gavriel sambil mengerdipkan mata kanannya. ... "Seorang anak perempuan, Gavriel. Cobalah fokus pada warna-warna cerah." "Lihatlah. Yang ini sangat lucu." Gavriel mengayun sebuah ranjang bayi berwarna merah muda. "Iya. Sangat cantik." Loretta menoleh sebentar dan kembali fokus memilih beberapa baju kecil untuk calon bayinya. Tanpa setahu Loretta, Gavriel memesannya dan mengaturnya untuk pengiriman ranjang bayi itu. "Ah, sudah cukup banyak yang aku beli. Kurasa ini sudah cukup, Gavriel. Ayo kita pulang." "Belum. Ada yang perlu kita lakukan selain itu." "Apakah ada yang terlupakan?" "Dokter Fabio?" "Jadwal pemeriksaan itu hari ini bukan?!" Di ruang pemeriksaan. Dokter Fabio dengan sabar melihat perkembangan bayi Loretta dibantu dengan alat USG nya. Dia mengetikan beberapa perhitungan dengan komputernya. Loretta melihat layar plasma di depannya dengan takjub. Di dalam layar di hadapannya, tampak seorang bayi kecil yang mulai bergerak-gerak. Kaki dan tangannya bergerak sangat pelan. "Ah, ternyata geliat itu yang membuatku geli. Seperti ada kupu-kupu di dalam perutku." batinnya. Gavriel yang menemaninya juga terlihat takjub. Mereka diam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. "Ya, bapak ibu muda. Selamat, bayi kecil anda sehat sekali. Dalam pemantauan saya, dia sudah mempunyai berat yang cukup di bulan ini. 1760g dengan panjang 35cm." Dokter Fabio memecah keheningan. "Apakah penjelasan saya sudah cukup jelas? Apakah ada pertanyaan yang ingin diajukan." Lanjutnya, melihat pasangan muda di hadapannya hanya terdiam. "Ah, saya cukup jelas dokter. Lalu apa yang harus kami lakukan selanjutnya?" tanya Gavriel. "Ibu tetap meminum vitamin yang saya resepkan. Jaga kesehatan dan tidak boleh terlalu capek saja pak. Tinggal sekitar 60 hari saja menjelang persalinan." kata Fabio sambil menulis beberapa coretan yang nyaris tak dapat dibaca di sebuah kertas. "Baik dokter." jawab Loretta sambil merapikan pakaiannya kembali. "Terimakasih dokter." Gavriel menerima kertas resep itu dan berpamitan. "Jangan lupa untuk kontrol di bulan yang akan datang." "Baik dokter dan terimakasih." kata Loretta. Gavriel menggenggam tangan Loretta berjalan keluar dari ruang periksa. "Kau dengar, kau tidak boleh terlalu capek." "Iya, aku akan berusaha tidak terlalu capek." kata Loretta sambil tersenyum. "Loretta. Aku ingin memperkenalkanmu pada ayahku. Sebagai kekasihku." kata Gavriel tiba-tiba.. "Gavriel. Apa kau bercanda?" "Tidak. Aku seribu persen serius." "Bagaimana aku menghadapi ayahmu sebagai kekasih anaknya, dan sedang hamil entah dengan siapa? Apa yang bisa aku jelaskan?" "Kau tak perlu menjelaskan apapun. Semua adalah cukup bahwa kau adalah perempuan yang aku pilih, perempuan yang aku cintai." "Tapi Gavriel. Aku," "Tak usah cemas. Aku selalu bersamamu. Apapun yang terjadi." kata Gavriel dengan mencium lembut kening Loretta. "Aku sangat mencintaimu, Loretta."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD