KRRAKKK Suara itu membuat kami berhenti bergerak. sesaat kami saling berpandangan sebelum akhirnya cabang di bawah kami bergoyang lebih keras. "Apa itu?" tanya Andi waspada. Aku melihat ke bawah. "Ah, itu cuma cabang kecil yang patah. Nggak papa." "Kamu yakin?" "Yakin. Ayo lanjut." Tapi sebelum kami sempat bergerak, Andi tergelincir. Ia hampir jatuh, tapi dengan cepat tangannya mencengkeram cabang di samping. Aku menjerit, ikut hampir terjatuh. Kami bergelantungan setengah, dalam posisi kacau, masih menyatu. "ASTAGA!" teriak Andi. "TANGKAP AKU!" "Aku pegang! Aku pegang!" Selama beberapa detik kami bergelantungan dalam posisi sangat tidak mengenakkan. Andi bertahan dengan satu tangan mencengkeram cabang yang kuat, tangan satunya memegang pinggangku. Kakinya berusaha mencari pijaka

