Bab 60

1334 Words

"Makan yang kenyang, Bu. Biar gak mati. Heheheh," katanya dengan seringai kejam tanpa perasaan. "Nanti kalo mati kelaparan, saya juga yang repot kudu gali kubur buat buang jasad ibuk!" Iroh tak menjawab. Ia hanya memandangi nasi itu dengan mata kosong. Beberapa hari pertama, ia menolak makan. Ia pikir dengan mogok makan, ia bisa mati cepat, bisa mengakhiri semua penderitaan ini. Tapi tubuhnya terlalu kuat—atau terlalu lemah untuk mati? Ia tak tahu. Yang ia tahu, setiap hari ia tetap hidup. Setiap hari rasa lapar itu semakin menusuk. Dan setiap hari, pada akhirnya ia memaksakan diri untuk makan, meski hanya beberapa suap. Hari ini, nasi bungkus itu masih utuh. Iroh tak punya selera. Ia hanya berbaring, matanya menatap langit-langit yang lembab, menatap bayangan lampu yang bergoyang. Hari

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD