Tapi kenapa... kenapa rasanya seperti ingin turun dan menarik kerah lelaki itu supaya pergi menjauh? Dimas menggeleng, menepis perasaan itu. " Akh sial! Ini pasti cuma efek setelah aku mendengar cerita kedua pemuda kampung tadi. Wajar kalau ada sisa-sisa rasa. Tapi itu bukan cinta. Hanya impact dari cerita Arfan dan Reza. Dimas turun dari mobil dengan langkah tegap, tenang dan berwibawa , sambil membawa map cokelat berisi akta cerai di tangannya. Mak Iroh menoleh. Begitu melihat kehadiran Dimas, wanita itu terkesiap. Dadanya naik turun cepat. Matanya yang sayu itu, menatap Dimas dengan campuran penuh harap dan ketakutan. Lelaki di sampingnya—Mahendra, langsung memasang wajah dingin. Ia menggeser tubuh, sedikit melindungi Mak Iroh. "Selamat pagi," sapa Dimas datar. "Pa... pagi," jawa

