Bab 42

1568 Words

Pukul sembilan pagi, matahari sudah cukup tinggi saat Dimas memarkir mobilnya di pinggir jalan raya dekat pintu masuk gapura Desa Sriwedari. Tangannya masih menggenggam setir, matanya menatap jalan setapak berkerikil yang mengarah ke kedalaman desa, jalan yang sama yang dulu ia lalui setiap hari selama sebulan, meski kini sama sekali Dimas tidak mengingatnya. Di kursi penumpang, sebuah map cokelat tergeletak. Isinya akta cerai yang sudah resmi secara hukum. Prosesnya memang cepat, berkat koneksinya sebagai seorang pengacara dan uang bisa mempercepat apa pun di negara ini. Helena bahkan menawari diri untuk ikut, tapi Dimas menolak. "Ini urusanku dengannya. Aku yang harus selesaikan sendiri." Helena agak cemberut, tapi akhirnya mengizinkan. "Cepat kembali, Sayang. Kita ada fitting baju pe

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD