Pagi pun datang dengan sinar matahari yang cerah. Aku membuka mata, merasakan tubuh yang pegal di seluruh sendi. Wajar, setelah semalam "bertempur" lebih dari satu jam. Andi sudah bangun lebih dulu. Kudengar suara dari dapur—rupanya ia sedang memasak. Aku tersenyum. Kemarin ia belajar, hari ini praktik. Aku bangkit, melangkah ke dapur, dan melihatnya sedang serius mengaduk wajan. "Pagi, Sayang," sapaku. Ia menoleh, tersenyum lebar. "Pagi! Aku buat sarapan. Nasi goreng lagi, tapi kali aku ikutin cara yang kamu ajarin kemarin. Nggak akan keasinan lagi. janji." Aku memeluknya dari belakang. "Aku percaya." Sarapan kali ini benar-benar enak. Nasi gorengnya pas rasanya, tidak keasinan, bahkan wangi. Aku memuji masakannya habis-habisan, membuatnya tersipu malu. "Besok aku coba masak yang

