Perempuan Itu tak mau Kalah. Setelah pagi harinya Helena pulang dan dia berjanji akan kembali. Rupanya Lena betul betul membuktikan ucapannya. Matahari mulai condong ke barat ketika SUV hitam itu kembali muncul dari balik bukit. Aku masih duduk di beranda rumah dengan mata sembab, pakaian masih sama seperti tadi pagi—daster lusuh yang belum sempat ku ganti. Seharian ini aku hanya terpaku, memikirkan semua yang terjadi. Andi duduk di sampingku memegang tanganku erat. Sedari tadi ia berusaha menghiburku, membuatkan teh hangat, bahkan mencoba mengajakku bercanda. Tapi tak ada yang bisa mencairkan hatiku yang beku. "Sayang, mereka datang lagi," bisik Andi. Aku mengangkat wajah. Mobil yang sama, dengan Rico di kursi depan dan Helena di belakang, berhenti tepat di ujung jalan setapak menuju

