Bab 54

1684 Words

Sore itu, Iroh pulang dari rumah Mahendra dengan langkah gontai. Kakinya terasa berat, bukan karena lelah, tapi karena beban di dadanya yang terasa seperti gunung menjulang dan juga kembar. Jalan setapak yang biasa ia lalui dengan ringan, kini terasa panjang dan sunyi. Angin sore berhembus sejuk, tapi ia tak merasakan apa-apa. Yang ada hanya rasa hampa. Sesampainya di rumah, Iroh langsung masuk ke kamar, tanpa menyalakan lampu. Ia duduk di pinggir dipan, memeluk bantal, dan membiarkan pikirannya berkelana bebas. Hendra... Wajah lelaki itu kembali terbayang. Tatapan dinginnya, nada sindirannya, tapi yang paling menyakitkan adalah luka di matanya. Luka yang disebabkan oleh Iroh. "Aku jahat," bisiknya pada diri sendiri. "Aku jahat banget." Ia teringat kata-kata Hendra di teras rumah itu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD