Keesokan harinya. Iroh duduk di teras rumahnya, memandangi ladang di kejauhan. Tangannya memegang cangkir kopi yang sudah dingin sejak tadi. Matanya menerawang, pikirannya melayang. Hendra. Sudah dua hari lelaki itu tak datang. Biasanya, setiap pagi setelah mengantar Kirana sekolah, Hendra selalu mampir. Kadang bawa gorengan, kadang bawa rujak, kadang hanya sekadar duduk dan menemani. Tapi dua hari ini... tak ada kabar. Tak ada suara motor, tak ada senyum, tak ada tawa. "Kemana dia? Ada apa, ya?" "Jangan-jangan dia sakit? Atau Kirana sakit?" Siang harinya, Iroh memutuskan pergi ke pasar. Bukan hanya untuk menjual sisa hasil panen singkong dan cabai yang kemarin ia panen, tapi juga untuk membeli sesuatu. Ada rasa bersalah yang menggelitik hatinya. Selama ini Hendra selalu memberinya m

