Pertanyaan itu, di tengah situasi seperti ini, malah membuatku tersentuh. Ia masih meminta izin. Ia masih menghormati ku. Di saat hasratnya sudah begitu jelas terasa di bawahku (sesuatu yang besar dan keras menekan perutku)) ia masih bertanya. Sebagai jawaban, aku m e n ci u m nya lebih keras. Tanganku meraih ujung kemejanya yang sudah longgar, menariknya ke atas. Ia mengerti, mengangkat badannya sedikit, membiarkan aku meloloskan kemeja itu dari tubuhnya. Kemeja itu terlempar ke lantai. Kini dadanya terbuka. Dalam cahaya bulan, aku bisa melihat kontur otot-ototnya, balutan luka di d**a kiri, dan kulitnya yang berkilau samar. Aku menunduk, menciumi dadanya, men j Ilat pelan aerolanya yang mengeras. Ia menggeletar, tangannya meremas pinggulku kuat-kuat. Tanganku turun, membuka kancing ce

