Bab 13

899 Words

Pukul dua dini hari, aku belum juga bisa memicingkan mata. Padahal, Lampu minyak di kamarku sudah ku padamkan sejak dua jam lalu, hanya menyisakan bias cahaya dari ruangan tengah, dimana Andi tertidur. Namun mataku tak bisa terpejam. Aku berbaring terlentang, memandangi langit-langit kamarku yang samar. Pikiranku masih dipenuhi kejadian siang tadi: teriakan warga, tatapan sinis Arfan, keputusan gila Andi yang menawarkan pernikahan, dan cap jempol sidik jari yang akan mengikat kami ke dalam hubungan yang lebih serius. "Dua hari lagi... Dua hari lagi aku akan menikah lagi dengan dia. Setelah delapan tahun menjanda...." Aku tak tahu harus merasa apa. Bahagia? Takut? Atau hanya sekadar lelah menjalani takdir yang terus mengaduk-aduk hidupku? Tenggorokanku tiba-tiba terasa kering. Kering

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD