Arunika mengeluarkan semua air mata yang telah ditahannya beberapa hari ini. Dia tahu mereka tidak memiliki hubungan apapun. Namun tetap saja, kedekatan mereka bukan teman biasa. Dan Arunika tahu dia tidak akan sanggup menjadi asisten atau seperti yang petani itu bilang mainan.
"Dia sudah menentukan jalannya sendiri. Kau tidak bisa bersamanya," hibur Dewanti.
"Apakah tidak ada cara untuk menghapus kutukan itu?" tanya Arunika berharap.
"Entahlah. Kalau para Laksamana turun temurun saja tidak tahu, bagaimana aku tahu?"
"Mungkin saja, ada cara yang kita nggak tahu. Kita bisa mencarinya," bujuk Arunika.
"Apakah itu penting sekarang? Tugasmu lebih penting, demi kota ini,"tolak Dewanti.
"Aku bahkan tidak berasal dari kota ini."
"Arunika. Kalau kau ingin tahu kenapa kau ada di sini, kau harus berusaha mencari tahu tentang kota ini. Kalau kau membiarkan kota ini hancur, semua jawaban pertanyaanmu juga akan hancur."
Arunika menutup kepalanya dengan bantal. Dia sedang malas berdebat. Tetapi ada sedikit rasa lega setelah menangis, dan melihat Dewanti ada di sini.
Dewanti menatapnya dengan lembut. "Kau akan segera pulih, yakinlah. Hidupmu jauh lebih berharga daripada menanti satu orang lelaki."
***
Panji ingin segera bersiap memburu wewe, namun Oriza Sativa melarangnya. Panji diharuskan makan lebih dulu, bebersih badan, dan juga mengobrol dengannya. Panji melakukan semuanya dengan terpaksa. Namun dia menyukai perhatian dari Oriza, dia tidak pernah mendapatkan perhatian semacam itu dari ayahnya.
Ah, ayahnya sudah mati. Tetapi dia tidak merasa sedih sedikitpun.
Panji tahu, Oriza mungin ingin berbincang terkait susunan organisasi ApiAbadi selanjutnya, dan kabar keluarga Laksamana.
"Orion sudah mati. Kini Bayu yang menggantinya," kata Panji membuka percakapan. Dia lebih baik mengatakan langsung tanpa harus berbelit-belit.
Aditya nampak terkejt, namun Riza lebih tenang. "Apakah tidak berat menanggung dua kekuasaan sekaligus?"
"Aku yakin Bayu mampu," jawab Panji.
"Apa yang bisa kami bantu?"
"Persetujuan kalian untuk Bayu, dan dukungan penuh aku rasa," kata Panji.
"Kami tidak ragu dengan kemampuan Bayu. Tetapi rantai kutukan tidak mudah diputus. Apa kau tahu kenapa Laksamana memiliki kutukan tersebut?"
Panji menggeleng. Dia tidak pernah mencari tahu. Dia menyangka Laksamana begitu saja mendapatkannya. "Apakah ada alasan lain di baliknya?"
Oriza Sativa memandang lukisan wanita di dinding, yang dipanggil dengan Dewi Padi tersebut. "Setiap kepala bangsawan memiliki keistimewaan beriringan dengan kelemahan. Bagi kami, menjaga dan bersawah adalah hidup kami. Kami tidak bisa memilih pekerjaan lain. Sebab bila kami memilih pekerjaan lain, Dewi Padi akan marah dan mencabut berkahnya.
Sedangkan Laksamana, keunggulannya adalah fisik juga kekuatannya yang besar. Namun sebagai gantinya, mereka tidak bisa menikah. Kalaupun menikah, istrinya harus siap bila melihat suaminya bersama perempuan lain.
Saat Bayu menolak menjadi kepala keluarga dan bergabung dengan ApiAbadi, separuh keluarga bangsawan langsung mengikuti jejaknya. Apalagi pemimpinnya adalah Lukman.
Kami baru tahu kalau Lukman dari keluarga Candra setelah dia mati. Kejutan yang tak menyenangkan, mengingat sejarah keluarga Candra lebih sering memihak wewe.
Aku mendengar cerita dari nenekku, kalau Laksamana sangat setia terhadap istrinya. Namun karena dia menginginkan kekuatan lebih, maka dewa menurunkan kutukan padanya. Harga yang harus dia bayar atas permintannya."
Panji menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dan selanjutnya apa yang terjadi pada istrinya?"
"Dia bunuh diri."
"Apa?" teriak Aditya dan Panji bersamaan.
"Ironis kan? Kau mendapatkan kelebihan tetapi harus mengorbankan keluargamu."
"Apakah kutukan itu tidak bisa dihapus?"
"Mungkin bisa, tetapi aku tidak tahu caranya."
Aditya seperti mendapat ide baru. "Kalau melepaskan keistimewaan tersebut, apakah kutukannya juga hilang?"
Oriza Sativa tidak setuju dengan ide Aditya. "Risikonya besar, dan belum tentu berhasil. Apalagi Bayu sekarang menjabat sebagai petinggi agung. Kesalamatan Kota ini ada di pudaknya."
"Yah beruntungnya pamanku," kata Panji.
Mereka semua tersenyum pilu.
"Sebaiknya kita bersiap sekarang, aku sudah gatal ingin menebas kepala para wewe itu," sahut Panji.
"Mereka tidak seganas di kota, tetapi jumlahnya seperti lebah yang mengamuk."
"Waw. Terus bagaimana kau membasminya?"
"Menggunakan ini," kata Aditya menunjukkan sebuah buntelan benang ruwet yang di genggamnya.
"Apa itu?"
"Ini namanya jaring, seperti menangkap ikan. Nah metodenya persis seperti itu. Kami akan menjaring mereka semua dan membinasakannya dalam satu tindakan," Aditya menjelaskan panjang lebar.
"Kau cocok jadi guru," puji Panji.
"Aku memang guru, guru para petani," canda Aditya.
Mereka pamit pada Oriza Sativa dan pergi ke sawah dengan menggunakan motor. Sura deru motor bersahut-sahutan dari segala arah.
"Mereka adalah rekanan kami, mereka juga ikut membantu membasmi wewe setiap malam. Deru motornya sebagai cara komunikasi kami," kata Aditya.
"Kan ada ponsel," bantah Panji.
"Ribet, ketika menyetir, lebih enak langsung menarik gas. Bruum Brumm begitu."
"Kupikir kau modern, tetapi aneh," ejek Panji.
Aditya tertawa. "Buat hiburan saat malam, biar enggak ngantuk," kata Aditya mencari alasan.
"Ayo!"
Motor melaju perlahan, lampu jalanan masih jarang ada di sana. Mereka hanya bermodalkan lampu sorot motor. Beberapa kali melewati jalanan yang tidak terlalu bagus. Panji harus berpegangan kuat pada behel belakang motor.
Karena tidak memakai helm, Panji beberapa kali kelilipan serangga yang terbang. Sepanjang perjalanan da sibuk mengucek-ngucek matanya, tak sadar kalau mereka sudah sampai di tengah sawah, berhenti di depan gubuk.
"Sudah sampai Tuan," kata Aditya memarkir motornya.
Panji mengerjap-ngerjap berharap tidak ada serangga yang tersisa di matanya. Setelah beberap menit, Panji merasa lebih baik, dia menurunkan tas biola dari bahunya. Dia mengeluarkan biola. Sedangkan Aditya sudah bersiap dengan jaringnya.
Jaring itu di lemparkannya ke udara begitu saja. Dia memagang tali yang menyambung dengan jaring tersebut. Jaring itu bergerak ke kanan kiri sesuai arahan Aditya.
"Seperti memancing ikan beneran ya!" Puji Panji.
"Iya, sayangnya tidak enak dimakan mereka itu."
"Dalam satu jaring bisa memuat berapa ratus wewe?"
"Aku tidak pernah menghitungnya, mungkin ratusan."
Mata Panji mengernyit, memperkirakan ukuran jaring itu. "Sepertinya tidak akan muat."
"Oh ukurannya bisa emmbesar sepuluh kali lipat dari ini," jelas Aditya.
"Awesome," Panji terpesona.
"Lebih enak biola, tinggal gesek-gesek mereka datang."
Iya, dan aku jadi umpan ikannya. Bagaimana kalau si umpan ini menunjukkannya?"
Aditya terkekeh. "Silahkan umpan, aku siap dengan jaringnya," lanjut Aditya.
Panji memegang dengan hati-hati biola Naraya. Dia bisa berkomunikasi dengan Naraya. Namun sejak dia sudah menguasai biola ini, Naraya menutup pintu komunikasi. Mungkin dia merasa terganggu kencannya. Panji merasa iri.
Dia ingin memainkan melodi cepat, namun ketika semilir angin memebelai wajahnya. Panji ingat Bayu dan Arunika. Hatinya menjadi sendu.
Dia memilih melodi yang sendu di malam itu.
Duar! Terdengar ledakan sebuah motor dari ujung sana. Api membumbung tinggi, pendar merah kuningnya memcah gelap di sana.