Dewi Padi

1051 Words
Arunika mengerjap berulang kali. Dia tidak percaya apa yang di dengarnya. Mereka menanyakan tentang makanan, bukan tentang dirinya. Ada rasa senang di sudut hatinya, diperlakukan seperti orang biasa. Erik benar, mereka adalah orang baik. Dan juga biasa. Hihihi.  "Nona mau makan apa? Katanya tadi tidak sempat makan karena ada keributan kecil?" Tanya Oriza Sativa. "Panggil aku Riza saja, biar tidak terlalu panjang."  "Baik Riza. Aku makan apa aja,* jawab Arunika.  "Bagus."  Arunika duduk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang tamu tersebut. Dia masih belum.terbiasa dengan pilihan dekorasi rumah ini.  "Ah ini hanya koleksi anakku. Untuk sementara saja. Nanti sore akan dibersihkan, dan dikembalikan seperti semula," kata Riza.  Arunika hanya tersenyum. Dia tidak.tahu harus menjawab apa.  Seorang anak kecil membuka korden. "Ayah, makanan sudah siap."  "Bagus sekali. Mati Nona. Ehem, Tuan Panji di mana ya?" Tanya Riza. Dia mencari keluar rumah, namun Panji tidak ada.  "Biarkan saja. Nanti kalau lapar juga pulang," jawab Arunika. Dia malas mencari anak itu. Lebih baik begini, mereka saling menghindar agar tidak canggung.  "Oh baiklah."  Sepertinya kata baik saja tidak cukup. Kata sangat baik.dan sangat ramah lebih tepat. Hidangan tersedia bukan hanya satu menu, tapi ada banyak sekali. Sampai Arunika bingung mau memilih yang mana. Semuanya terlihat enak. Ada sate, kare ayam, galantin. Ya ampun ini seperti menu hidangan di tempat hajatan.  "Mari, mari. Anggap saja rumah sendiri," kata Riza.  Mereka mempersilahkan Arunika untuk mengambil terlebih dulu. Arunika mengambil sate dan juga lontong. Dia jarang makan sate di kota ini. Malas kalau harus memasak sendiri. Lebih enak beli. Sayangnya di sini tidak ada penjual sate.  "Boleh tahu, kenapa ada menu sate di sini?" Tanya Arunika.  "Sate? Iya kami biasa makan bersama petani. Untuk mngehemat bujet, kami memotong dagingnya jadi kecil kecil seperti itu. Agar cukup untuk banyak orang."  Arunika geli mendengar alasannya. Maka dia akan menikmati makanan ini. Dan Bayu, lupakan saja dia  *** Panji tidak lapar. Dia memilih pergi ke sawah melihat orang-orang bekerja. Saat ini mereka sedang panen. Panji merasa takjub. Kali ini mereka tidak sepenuhnya menggunakan tenaga manusia lagi. Mereka menggunakan mesin berjalan yang memroses langsung menjadi bulir gabah. Bulir-bulir gabah tersebut langsung dimasukkan ke dalam karung. Para buruh tani, hanya bertugas untuk mengumpulkan batang-batang padi ke dalam karung untuk pakan sapi. "Kenapa Tuan Panji bisa datang ke mari?" tanya seorang mandor.  Panji menilai lelaki yang di hadapannya sepertinya seusia dengannya.  "Aku ingin melihat bagaimana keluarga Oriza Sativa bekerja. Dan sepertinya sudah banyak yang menggunakan mesin modern," kata Panji. "Benar Tuan, namun tidak semuanya. Masih ada bagian-bagian persawahan di lereng bukit sana," tunjuk lelaki itu pada sebuah bukit,"Di sana masih menggunakan tenaga manusia." "Kenapa berbeda?" "Karena budaya masyarakatnya berbeda. Kita tidak bisa memaksakan sesuatu, apalagi terkait mata pencaharian hidup." "Berarti nilai keuntungannya lebih kecil dibanding dengan menggunakan mesin?" tanya Panji. Lelaki itu tertawa kecil. "Untung dan rugi dalam mengurus sawah itu jarang terpikirkan oleh kami, pata petani. Kadang hasil jual padi, lebih murah dibandingkan hasil operasionalnya. Namun pada musim berikutnya kami tetap menanam padi. Sebagai petani, kami memasrahkan hasil pada Dewi Padi. Kalau memang rejekinya hanya segitu, ya kami terima. Yang terpenting kami sudah berusaha semaksimal mungkin." Panji menyeringai. "Sepertinya aku tidak bisa menjadi petani. Kalau rugi, aku kapok." Lelaki itu kembali tertawa. "Bagi orang-orang yang lahir dan besar di sini, menjadi petani bukanlah pilihan hidup. Melainkan hidup itu sendiri. Kalau kami tidak menjadi petani, kami lantas kerja apa? Kalau menjadi buruh, tidak bekerja tidak makan. Menjadi petani, meskipun tidak punya, biasanya masih punya simpanan gabah. Sayuran kami tanam di pekarangan." "Kalian nggak masalah nggak tahu gemerlapnya dunia?" "Oh jangan salah. Kalau aku, masih selalu upadate teknologi. Kalau mereka?" Lelaki itu memandang para buruh. "Yang penting keluarga mereka bisa makan." "Tidak pernah mencoba kerjaq di pabrik. Gajinya kan besar juga." "Ada yang memilih seperti itu. Banyak juga yang bertahan. Kemarin ada pabrik kertas yang ingin membeli sawah di dekat sini. Kami melarang. Padahal harganya cukup fantastis." "Ditolak?" terka Panji. "Benar. Ayahku marah sekali. Bahkan langsung mengusir mereka," kata lelaki muda itu sambil tertawa. "Ayahmu?"  "Ah, kenalkan. Aku Aditya. Anak Oriza Sativa." "Kau pendekar juga?" "Bukan, kakakku yang pendekar Apiabadi. Aku bertugas mengurus pertanian," kata Aditya tersenyum. "Kau tahu, di ujung warung sana. Kami mendapat sedikit masalah. Apa keluargamu akan memberi hukuman pada mereka?" Wajah Aditya yang ramah sedari awal kini berubah keras. "Kami akan memberikan hukuman, tentu saja. Apakah kalian tahu siapa namanya?" "Hukuman apa yang akan kalian berikan?" "Tergantung dari apa kesalahan mereka. Semua petani, buruh dan warga di hidup di wilayah Oriza Sativa tahu betul bagiaman sifat kami. Mereka seharusnya berhati-hati dalam bertindak. Apalagi membuat masalah dengan pendekar ApiAbadi." Adiytya kini berkata tegas menatap Panji. Dia serius. "Tidak perlu begitu. Hanya kesalahpahaman kecil," kata Panji. "Kau bisa memegang kata-kata kami," kata Aditya. Panji tertawa. "Baiklah. Ngomong-ngomong, siapa yang berburu wewe malam hari?" "Aku." Panji menoleh cepat. "Serius? Pagi kau bekerja di sawah, malam bekerja berburu wewe?" "Aku hanya memantau sore hari, paginya aku tidur." "Jadi kau yang terkuat di sini?" "Apa Tuan akan mengajak aku bertarung?" "Aku berubah pikiran. Nanti malam aku ikut kau." Aditya mengangguk.  *** "Dewi padi adalah dewa yang kami puja di sini. Dia yang memberikan rejeki padi-padi yang bagus dan memakmurkan hidup kami," kata Riza menjelaskan sebuah gambar perempuan di dinding ruang tenganh rumahnya. "Apakah kalian juga melakukan ritual pemujaan?" tanya Arunika. "Ritual syukur setelah panen ada, menjelang musim penghujan juga ada." "hei cewek jadul, malam ini kita bergerak," seru Panji.  Arunika menoleh ke ruang tamu. Panji kembali ke rumah bersama Aditya. "Aku lagi malas hari ini," jawab Arunika. "Ini kesempatan bagus, kau sudah lama tidak mengayunkan pedangmu," saran Panji. Arunika ingin menolak lagi tapi kemudian Aditya berseru. "Apakah dia yang menggunakan pedang dewa?" Riza berdeham, membuat Aditya menutup mulutnya.  "Tidak apa Pak. Tapi jangan hari ini, aku lelah sekali." kata Arunika. Dia merasa tubuhnya lelah, dan dia ingin menjernihkan pikirannya.  Arunika tidak meminta persetujuan, dia pamit undur diri.  Panji menatap punggung Arunika dengan sedih. Arunika menempati kamar yang disediakan oleh tan rumah. Kamarnya kecil tetapi cukup nyaman. Arunika menatap langit-langit. Dia merasa rindu dengan Dewanti. "Kukira kau sudah lupa denganku." Arunika menoleh. Dewanti berdiri di dekat pintu.  Arunika tidak kuat menahan tangisnya. Dia merasa dadanya sakit. Dewanti merengkuhnya. "Kau akan lebih baik setelah ini." Dewanti ingin tersenyum karena rencananya berhasil. Namun dia menahannya kuat-kuat. Hal ini memang lebih baik untuk mereka. Bayu tidak pantas untuk anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD