7. Menuruti Keinginan

1156 Words
Tangan kanan Hanina meremas lengan kirinya, berusaha menekan rasa gugup. Saat ini ia tengah menunggu lift terbuka. Hanina tersentak saat Hans merangkulnya, membuatnya menempel dengan bahu kokoh pria itu. “Apa kau gugup?” “Ti- tidak,” jawab Hanina. Hans setengah menunduk guna berbisik di telinga Hanina. “Tenang saja. Sebentar lagi rasa gugupmu akan digantikan dengan rasa nikmat.” Tubuh Hanina menegang sesaat dan semakin menegang saat pintu lift terbuka. Sebagian hatinya menyuruhnya berhenti, tapi sisi lain dirinya ingin melanjutkan ini demi niat balas dendamnya. “Ayo,” ucap Hans seraya menuntun Hanina memasuki lift. Tak lama, Hanina dan Hans telah sampai di kamar yang mereka sewa. Hans tampak semakin bersemangat sementara Hanina semakin gugup dan gelisah. “Mau mandi dulu?” tanya Hans. “atau mandi bersama?” “A- apa? Ti- tidak,” jawab Hanina. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan mandi dulu. Tunggu aku, aku tak akan lama,” ucap Hans sambil mengerlingkan mata nakal dan berjalan menuju kamar mandi. Hanina menatap kepergian Hans dengan degup jantung semakin cepat, dan lebih cepat setelah pria itu menghilang di balik pintu kamar mandi setelah ia masuk. Ini pertama baginya, dan ia akan melakukannya dengan pria asing yang tidak ia kenal. Hanina mencoba mengatur napas guna meredakan rasa gugupnya. Tarik dari hidung, keluarkan lewat mulut, terus seperti itu sampai beberapa kali. Dan di embusan napas panjang yang terakhir, kegugupannya sedikit teratasi. “Kau sudah dewasa, Han. Ini bukan masalah. Kau hanya perlu berbaring dan membiarkan dia yang bekerja,” batin Hanina seraya menatap ranjang. Ia lalu mengambil langkah dan duduk di tepi ranjang. Di dalam kamar mandi, Hans mandi dengan terburu-buru tapi tak meninggalkan satu jengkal tubuhnya dari sabun. Setelah selesai, ia memakai parfum yang begitu memikat, beraromakan maskulin yang selalu berhasil membuat kaum hawa. Yang terakhir, ia mengambil sebuah pil dari saku celana dan menelannya tanpa air. “Mari puaskan perawan itu sampai pagi,” ucapnya saat ia menunduk menatap pangkal pahanya. Di luar, Hanina tiba-tiba termenung saat baru saja membaca pesan dari Yogi. “Di mana?” Adalah isi pesan Yogi dan Hanina tak berniat membalasnya. Seketika Hanina teringat ucapan Yogi bahwa apapun yang terjadi dirinya tak boleh melakukan hal bodoh dengan melakukannya dengan orang lain. Hanina tersentak saat suara pintu terbuka terdengar. Tubuhnya pun kembali menegang dan semakin menegang melihat Hans telah berdiri di depannya dengan hanya memakai handuk. “Kau yakin tidak mau mandi dulu?” tanya Hans. “Ti- tidak. A- atau apakah ha- harus?” tanya Hanina seraya mengalihkan pandangan dari pria bertubuh sempurna di depannya itu. Hans mengacak pelan rambut belakangnya dan mengatakan, “Tidak juga, sih. Tapi mungkin dengan mandi akan membuatmu lebih rileks. But, its ok jika kau tidak mau.” Ia lalu mengambil langkah membuatnya berdiri tepat di depan Hanina. “jadi, kita mulai sekarang?” tanyanya seraya meraih dagu Hanina dan menariknya, membuat Hanina mendongak menatapnya. Netra Hanina melebar kala melihat wajah Hans tampak begitu dekat. Dia tampan, tak kalah dari Agra juga Yogi. Hans juga memiliki aroma maskulin yang terasa menggelitik hidung Hanina, seakan menuntun otaknya memerintahkan tangannya untuk menyentuh dadanya yang tampak padat dan keras. Jantung Hanina berdebar kencang. Rasa gugup yang sebelumnya menguasai, kini semakin menggila terlebih saat Hans kian menunduk mengarah bibirnya. Jantung Hanina serasa mau meledak saat bibir Hans semakin dekat dan dekat. Namun, tepat sebelum bibir mereka bertemu, tiba-tiba Hanina menghalau bibir Hans dengan tangannya. Hans terkejut dan mengernyitkan alis. Ia sedikit mengambil jarak dan bertanya, “Kenapa?” Hanina tak segera menjawab sampai akhirnya dengan napas memburu ia mengatakan, “Ma- maaf, aku ingin membatalkannya.” Alis Hans kian berkerut tajam. Ia melepas dagu Hanina, berdiri tegak dan bersedekap d**a. “Jangan bercanda, Nona. Kita sudah akan memulainya,” kata Hans. “Ma- maaf. Tapi aku berubah pikiran. Tenang saja, aku akan tetap membayarmu,” kata Hanina kemudian meraih tasnya untuk mengambil uang. Akan tetapi, tiba-tiba tangannya ditepis hingga tas terlempar. “Tidak bisa. Kau sudah memesan, jadi aku tetap harus melayanimu,” kata Hans kemudian mendorong Hanina hingga terlentang dan bergegas naik ke ranjang menindihnya. Hanina mulai ketakutan, bulir-bulir keringat dingin mulai mengalir. “Ta- tapi aku akan membayarmu. Ja- jadi, lepaskan aku,” ucap Hanina seraya berusaha melepaskan kedua tangan yang Hans tekan ke kasur. “Kau gila? Melepaskan mangsa lezat sepertimu? Aku tahu kau masih perawan. Dan hanya orang tak waras yang akan melewatkannya. Aku tak peduli alasanmu, kau sudah menyewaku, jadi nikmati saja karena aku akan memuaskanmu.” Brak! Tepat setelah Hans mengatakan itu, pintu kamar terbuka lebar membuatnya dan Hanina menoleh. “Yo- Yogi,” ucap Hanina lirih melihat Yogi berdiri di ambang pintu. Ia bahkan hampir menangis. Yogi melotot melihat pemandangan di depan matanya. Sementara Hans, ia segera bangkit dari atas Hanina. “Siapa kau! Berani-beraninya kau–” Belum sempat Hans selesai bicara, sebuah tendangan mendarat di wajahnya. Saat ia bangkit dari atas Hanina, Yogi berjalan mendekat dan mempercepat langkah saat akan menendang. Ia tak bisa menahan diri melihat pemandangan memuakkan di depan matanya. Brugh! Tubuh Hans jatuh ke belakang dengan posisi terlentang. Mulutnya menganga, darah mulai mengalir dari lubang hidungnya. Kerasnya tendangan Yogi seketika membuatnya sekarat. Dada Yogi terlihat naik turun menatap Hans yang pingsan. Ia lalu menoleh dan kemarahan tampan jelas di wajahnya. Tanpa mengatakan apapun, ditariknya tangan Hanina dan membawanya pergi dari sana. *** “Ada apa denganmu?! Apa kau gila?!” teriak Yogi. Saat ini ia dan Hanina telah berada di dalam mobil. Ia membawa Hanina keluar dari kamar, keluar hotel dan mendorongnya masuk ke dalam mobilnya. Hanina tak berani mengangkat kepala, hanya menunduk dan menahan tangisan. “Argh!” Yogi berteriak dan memukul setir melampiaskan kemarahannya, kekecewaannya. “apa kau begitu ingin melakukannya? Ingin memberikan kesucianmu pada pria asing dan b******k sepertinya? Apa kau tak berpikir bahaya apa yang mungkin akan menimpamu, Han? Dia bisa saja memanfaatkanmu, dia bisa saja memanggil teman-temannya saat kau lengah, dia bahkan bisa menjualmu ke pria b******k lainnya!” Hanina menutup kedua telinga mendengar teriakan Yogi. Ia tahu ia salah, tapi tak seharusnya Yogi bersikap kasar padanya, bukan? Yogi kembali memukul setir melihat Hanina tampak frustasi dan membuatnya merasa serba salah. Ia tak ingin berteriak pada Hanina, tapi apa yang Hanina lakukan membuatnya tak bisa untuk tak berteriak padanya. Napas Yogi masih memburu saat ia menghidupkan start mobilnya setelah memakai sabuk pengaman. Ia lalu tancap gas, membawa mobilnya pergi dari sana. Cukup lama kemudian mobil Yogi tiba di kediamannya. Ia segera turun dari mobil dan menuntun paksa Hanina masuk ke dalam rumah. Hanina pun tak bisa berbuat banyak atau menolak, hanya bisa mengikuti Yogi di belakangnya. Brugh! Tubuh Hanina memantul di atas ranjang karena dorongan kasar yang Yogi lakukan. Yogi membawa Hanina ke kamar dan langsung mendorongnya ke atas ranjang king size miliknya. Ia lalu membuka satu persatu kancing kemejanya tanpa melepas pandangan dari Hanina dan mengatakan, “Kau sangat ingin melakukannya, kan? Kau sangat ingin melepas kesucianmu, kan? Kalau begitu akan kulakukan. Akan kulakukan sesuai keinginanmu, Han.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD