Yogi mengerutkan dahi, membaca dengan seksama pesan yang baru saja Hanina kirim. Sekali lagi Hanina berhasil membuatnya bertanya-tanya dan terkejut. Kemarin mengajaknya selingkuh dan sekarang mengajaknya bercinta.
Kekehan samar tercipta disertai gelengan ringan. “Tidak, ini pasti hanya salah paham. Atau, Hanina mungkin sedang bercanda,” gumamnya. Ia lalu mengirim pesan balasan.
“Kemarin kau mengajakku selingkuh, dan sekarang kau mengajakku bercinta.”
Jantung Yogi berdebar setelah mengirim pesan yang selesai ia ketik. Jiwa lelakinya berpikir bercinta yang Hanina maksud adalah seks, tapi akal sehatnya berpikir mungkin maksudnya adalah menjalin hubungan percintaan.
Di tempat Hanina, ia meremas ponselnya setelah membaca pesan balasan dari Yogi. Dengan tangan gemetar, ia merangkai huruf menjadi beberapa kata, menjadikannya sebuah kalimat.
“Aku tunggu di hotel Mawar nanti malam jam 9.”
Hanina kembali meremas ponselnya dengan tangan berkeringat. Ia mungkin sudah gila dengan mengajak Yogi bercinta, tapi ia tak punya pilihan lain. Daripada bercinta dengan gigolo yang mungkin berpenyakit karena suka gonta-ganti toilet, lebih baik melakukannya dengan Yogi. Semua itu bukan tanpa alasan melainkan sebab, besok Agra sudah dibolehkan pulang jadi sebagai langkah antisipasi jika Agra meminta jatah, ia harus melepas keperawanannya lebih dulu. Ia tak mau jika mereka bercinta dan Agra tahu ia masih perawan, akan memantik ingatan pria itu bahwa selama ini tak pernah menyentuhnya sama sekali.
Hanina tersentak saat ponselnya berdering dengan nomor Yogi yang tertera pada layar. Pria itu bukan lagi membalas pesannya melainkan menelepon.
Hanina melirik Agra sekilas yang tampak masih pulas. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah keluar untuk mengangkat panggilan. Meski Agra terlihat sangat pulas, tapi ia tak mau ambil resiko Agra mendengar pembicaraannya dengan Yogi.
“Han, bisa jelaskan maksudmu?” tanya Yogi di mana suaranya terdengar tenang. Namun, sebenarnya di sana ia menahan rasa gugup.
Hanina berusaha menetralkan detak jantungnya, mengatur napas sejenak lalu menjawab, “Agra belum pernah menyentuhku selama kami menikah. Besok dia sudah boleh pulang. Jika nanti kondisinya sudah pulih dan meminta haknya sebagai suami, aku khawatir dia ingat jika dia tak pernah menyentuhku dan memantik ingatan lainnya.”
Hanina duduk di kursi tunggu dan menggigit bibir bawahnya. Ia tahu ini salah, tapi keinginannya membalas Agra memaksanya melakukan ini. Belum saatnya Agra harus ingat semuanya. Ia ingin saat Ahda amnesia, pria itu mencintainya dengan sangat lalu akan ia patahkan perasaannya di saat yang tepat.
“Jika tidak bisa, tidak apa-apa. Aku akan–”
“Akan apa?” potong Yogi dengan segera, seakan tak mau mendengar lanjutan ucapan Hanina. “akan apa, Han?” tanyanya sekali lagi dengan rahang mengeras. “kau mau menyuruh pria lain yang melakukannya? Apa kau gila?”
“Lalu apa yang harus aku lakukan, Gi? Aku ingin membuat kenangan sempurna dengan Agra, membuatnya berpikir aku istri sempurna yang begitu mencintainya, lalu jika saatnya tiba, aku ingin memanjakan seluruh perasaanya, menyiksa hati dan batinnya. Jika dia tahu aku masih perawan, apa yang harus aku katakan? Apakah aku harus mengatakan, kalau selama ini dia memang tidak pernah menyentuhku? Apakah aku harus mengatakan seperti apa pernikahan kami sebelumnya? Apakah aku harus–”
“Ya. Oke, ya! Kita bisa melakukannya. Jadi jangan pernah lagi berpikir untuk melakukannya dengan orang lain!” ucap Yogi cepat dengan napas sedikit terengah.
Kembali pada Hanina, senyum getir terlihat samar di bibirnya. Mendengar kalimat tegas Yogi, ia bisa membayangkan seperti apa ekspresi pria itu di sana.
“Baiklah. Terima kasih,” ucap Hanina kemudian menutup panggilan.
Hanina menurunkan ponselnya dari telinga dan menatapnya dalam diam dengan mata berkaca-kaca. Ia pikir, mungkinkah Yogi marah karena dirinya kembali memanfaatkannya? Rencana menjadi selingkuhan demi memuluskan rencana balas dendam belum berjalan, tapi dirinya meminta hal lain lagi darinya.
Hanina meremas ponselnya kuat-kuat, melampiaskan gejolak perasaan tak menentu di hatinya sampai tiba-tiba tangan kanannya terangkat menutupi sebagian wajah saat ia tersadar.
“Apa yang sudah aku lakukan?” gumam Hanina kemudian mengusap layar dan mengetik pesan untuk ia kirim pada Yogi. Namun, ia kembali menghapusnya, berpikir mungkin tidak sekarang.
Di tempat Yogi, ia masih menatap layar ponselnya, berharap Hanina kembali menghubunginya sampai tiba-tiba ia berdecak kasar lalu menendang ban mobil di dekatnya membuat alarm mobil itu berbunyi.
Cukup lama kemudian, Yogi menjatuhkan tubuhnya kasar ke sofa, berbaring menghadap langit ruangan. Ia sudah berada di rumahnya, baru saja tiba dan masih memikirkan Hanina.
Yogi merogoh ponsel dari saku celana dan melihat kembali chat dari Hanina. Sebenarnya, ia sama sekali tak keberatan, bahkan merasa ini adalah kesempatan mewujudkan mimpinya. Namun, di lain sisi ia merasa seperti b******n karena seolah mencuri kesempatan dalam kesempitan. Sebagai seorang pria, apalagi pria yang mencintai Hanina, bisa tidur dengannya adalah keinginan terbesarnya. Tapi ia ingin mereka bercinta, bukan sekedar tidur bersama atau seks semata. Ia ingin Hanina melakukannya karena cinta.
Yogi mengembuskan napas berat dari mulut dan menjatuhkan ponselnya di atas d**a dan memejamkan mata. Ia ingin mengistirahatkan sejenak otaknya dari masalah ini.
Kling!
Suara tanda pesan masuk membuat Yogi kembali membuka mata. Alisnya pun berkerut setelah membuka pesan dari Hanina.
“Aku berubah pikiran, Gi. Maaf sudah merepotkanmu.”
Yogi segera bangun, duduk dan menatap ponselnya dengan serius. Sedikit rasa penyesalan pun timbul, tapi segera ia enyahkan.
“Kenapa?” Adalah balasan yang Yogi kirim pada Hanina.
“Tidak apa-apa. Aku hanya berubah pikiran. Aku terlalu gegabah.”
Yogi hanya diam setelah membaca pesan balasan dari Hanina. Ia lalu meletakkan ponselnya tanpa membalas pesan itu.
Di tempat Hanina, senyuman begitu tipis terukir setelah tak mendapati pesan balasan dari Yogi. Ia sudah berpikir dan memutuskan, akan meminta bantuan pria lain. Ia sadar ia terlalu gegabah, tapi ia tak bisa mengabaikan kekhawatirannya. Ia tak mau Agra sadar dan ingat bahwa tak pernah menyentuhnya selama menikah.
Malam harinya, Hanina mendatangi sebuah hotel tak jauh dari rumah sakit setelah membuat janji dengan seorang gigolo yang dipesannya dari sebuah aplikasi kencan. Agra sudah tidur dan ia akan kembali dengan segera. Meski ia sangat gugup, tapi ia sudah membulatkan tekad.
“Nona Atha?”
Hanina tersentak saat seorang pria menyapa, ia sengaja memakai nama samaran Atha. Posisinya berada di depan hotel, berdiri menunggu pria bayarannya.
Pria yang menyapa Hanina itu tinggi dan tampan, dan sama seperti foto pria di aplikasi kencan yang telah membuat janji dengannya.
“Hans?” tanya Hanina mematikan.
Pria tampan nan manis itu tersenyum dan mengangguk.
“Aku tak mengira pelangganku malam ini begitu sempurna. Anda sangat cantik menawan, Nona,” ucap Hans seraya meraih tangan Hanina dan menciumnya.
Hanina sama sekali tak tersipu, ia yakin Hans memang selalu melakukan ini, memuji calon pelanggannya bak seorang putri.
“Kita masuk sekarang?” tanya Hans dan dijawab anggukan lemah dari Hanina.
Tanpa menunggu, Hans menggenggam tangan Hanina seperti seorang pacar, menuntunnya masuk ke dalam hotel tak sabar untuk bersenang-senang.