Rayya memperhatikan itu. Dia melihat jelas bagaimana raut itu menunjukkan betapa kecewanya Sabrina saat mendengar dirinya mendapat kursi kelas bisnis. Rayya tahu Sabrina mendapat kursi di kelas ekonomi. Namun detik kemudian, wajah cantik itu kembali ceria. Tawa Sabrina kembali terdengar riang. “Nggak apa-apa deh, yang penting nanti kita sekamar ya Ray, di hotel.” Rayya tersenyum. “Yaa semoga saja. Kita tunggu HRD pembagian kamar nanti.” “Hallo Sayang.” Yudhis yang datang dari arah belakang punggung Rayya, langsung merangkul pundaknya. “Dapat kursi nomor berapa? Kudengar semua produser dapat kelas bisnis ya?” Rayya menoleh dan tersenyum, lalu mengangguk. “Ya, aku duduk di samping Pak Juna.” Dia mencoba memindai raut wajah pacarnya ini. Tidak ada ekspresi berlebihan, biasa saja. “Hemm b

