“Apa?” Yudhis ingin protes. Tapi dilihatnya tatapan tajam Arjuna mengarah padanya. Nyalinya seketika ciut. Akhirnya mengangguk meskipun enggan meninggalkan Rayya dengan Arjuna sekarang. Inginnya dia adalah masih ada kesempatan untuk berduaan dengan sang pacar. Minimal di lift atau di lorong kamar yang sepi. “Umm ya sudah, Ray. Kalau begitu, aku duluan ya ke kamar.” Lalu menoleh pada Arjuna. “Saya permisi duluan Pak.” Arjuna mengacungkan jempol tangan kanannya tanpa mengucapkan apa-apa. Sedangkan Rayya mengangguk seraya tersenyum tipis. Sekarang, hanya tinggal keduanya, saling bertatapan, dan diam. Lalu Arjuna berjalan mendekat, ikut duduk di kursi taman panjang, di samping Rayya. Kembali saling tatap beberapa detik. Sampai kemudian Rayya mengangkat kedua alisnya. “Pak Juna, sengaja ng

