CIUM, CIUM DAN CIUM

1020 Words
Lingga masih saja berdiri mematung. Antara percaya tak percaya kalau ciuman panas itu tiba tiba terhenti begitu saja. Tapi kemudian ia tersadar. Kenapa aku malah melamun begini? Lingga bergerak cepat ke arah perempuan bergaun merah tersebut menghilang. Ia mencarinya sambil menerobos kerumunan orang orang. Kemana dia? “Ah.. Damn,” Lingga terdiam ketika tiba di taman yang ada di samping ballroom. “Hilang sudah. Cepat sekali dia bergerak. "Atau aku yang memang lambat?" Ia menggelengkan kepalanya merasa kesal dengan dirinya sendiri. “Kenapa juga tadi begitu bodoh dengan hanya berdiam diri seperti patung? “So stupid. "Tapi... Perempuan tadi berhasil menghipnotisku. Itu sebabnya.. Aku... Tidak berkutik." Lingga menarik nafas panjang sambil memperhatikan situasi sekitarnya. Tiba tiba saja, matanya menangkap seorang perempuan bergaun merah dari kejauhan berjalan memasuki area ballroom. Perempuan itu sama sama mengenakan topeng moretta. Hanya saja… Gaun merahnya terlihat berbeda. Tapi, aku tadi tidak terlalu memperhatikan modelnya. Lingga memutuskan untuk bergerak ke arah perempuan bergaun merah tersebut. Ia berlari secepat mungkin agar tidak lagi menghilang dari pandangannya. Aku harus memastikan. Jangan biarkan dia lepas. Lingga berhasil mendekat dan menarik tangan perempuan tersebut, lalu mendekapnya. Tidak berpikir panjang, ia pun mencium bibirnya. Perempuan dalam dekapannya itu melotot dan mendorong tubuhnya hingga mereka berjarak. “Apa kamu gila? Kenapa sembarangan menciumku?” ucapnya berteriak. Di tengah hingar bingar suara musik membuat mereka harus berbicara dengan suara keras. Ah.. No… Suaranya berbeda. Tapi… Tidak juga.. Ah entahlah. Keributan ini membuatku tidak bisa mengenali suaranya dengan pasti. Lingga, kamu bodoh sekali. Tidak ada petunjuk apapun soal perempuan tadi. ZERO CLUE. Tapi… Mmm… Ciuman barusan.. Berbeda. Meski aku tidak bisa mengingat suara dan gaunnya dengan detail, tapi ada satu petunjuk. Yaitu ciuman. Sepertinya… Apa aku harus mencium semua perempuan bergaun merah malam ini? “Siapa kamu?” perempuan itu kembali bertanya. “Kamu tidak perlu tahu,” Lingga menyeringai di balik topengnya. “Are you drunk?” perempuan itu menggelengkan kepalanya. “Sort of…” Lingga tergelak. “Should you… Do something? No apology?” tanya perempuan itu lagi yang terlihat mulai gusar. Lingga akhirnya mengakui kesalahannya, “I’m truly sorry.. Forgive me, the drunken man can’t think properly…” Perempuan itu akhirnya tertawa, “Kamu tidak terlihat mabuk. Apa mungkin kamu salah mencium orang? Is your girlfriend runaway or what?” “Sort of…” Lingga akhirnya tertawa. Perempuan di hadapannya itu berhasil menebaknya meski mungkin secara iseng saja, tapi dugaannya benar. Perempuan bergaun merah itu mendekat. Dari jarak pandang yang tidak sejauh sebelumnya, Lingga bisa melihat kalau perempuan di hadapannya tidak kalah cantik. Tapi… Bibirnya berbeda. Ciuman barusan juga berbeda. “If.. Just if…” Dia bicara dengan nada menggoda. “She’s successfully runaway and will not coming back. I’ll be here…” Lingga hanya tersenyum. Perempuan itu mendekat dan mengecup bibirnya, “Ciuman dibalas dengan ciuman. Dengan ini, aku memaafkanmu.” Lingga terdiam. Perempuan ini… Sorot matanya… Penuh percaya diri seperti gadis cantik di tujuh tahun lalu… Oh woman.. Kenapa bayanganmu selalu kembali? Aku bingung. Semua perempuan bergaun merah tampak seperti dia. Apa aku belum siap move on? Atau memang mereka mirip? Atau bisa saja, mungkin saja, salah satu dari mereka adalah gadis halte bis itu. “Aku pergi,” perempuan itu tersenyum dari balik topengnya. Lingga lagi lagi hanya bisa mematung. Ada apa denganku? Dua orang perempuan menciumku dan keduanya berhasil membuatku mati kutu. Lingga membiarkan perempuan kedua pergi dari hadapannya. Ohh.. Aku biarkan saja? Atau kejar? ARGHH.. Ada apa denganku? Kenapa plin plan dan lama memutuskan? Lingga akhirnya membiarkan perempuan kedua pergi. Ada kesan yang berbeda darinya. Perempuan pertama membangkitkan gairahh dan hasratnya. Dia juga misterius dan membuat penasaran. Perempuan kedua begitu percaya diri dan membuatnya nyaman. Dia sepertinya easy going dan friendly. Lingga hanya geleng geleng kepala. Aku aneh. Bertahun tahun seperti kehilangan rasa untuk menjalin hubungan. Tapi hari ini, dalam semalam, aku tertarik pada lawan jenis. Tidak hanya seorang, tapi dua orang sekaligus. Ia membalikkan tubuhnya, namun tak sengaja menubruk seseorang. “Oh sorry,” Lingga membungkuk untuk mengambil kipas yang terjatuh dari orang di hadapannya. Ia bangkit dan mengembalikannya, “Ini.” “Thanks,” ucap sosok di hadapannya. Lingga terkaget kaget ketika menyadari kalau seseorang yang ditubruknya tak sengaja itu seorang perempuan yang juga mengenakan gaun merah. Dia tidak mengenaliku. Artinya bukan gadis nomor satu. Lingga kemudian teringat misinya datang ke pesta topeng tersebut. Yaitu berkenalan dengan tiga orang perempuan pilihan orangtuanya. “Kamu…” Lingga tidak meneruskan ucapannya. “Ya?” ucap perempuan itu sambil membuka kipasnya. “Feelin hot?” tanya Lingga. Perempuan itu menutup kembali kipas di tangannya, “Jangan menggodaku.” Lingga mengerutkan keningnya tapi kemudian menyadari pertanyaannya memang memiliki makna ganda. “Sorry. Aku serius bertanya,” ucapnya. Hari ini, dua kali sudah kena semprot perempuan. Not my day… Not my day… Perempuan itu menggelengkan kepalanya, “Pertanyaan yang tidak pantas.” Lingga tiba tiba saja tersenyum. Kejadian tujuh tahun lalu kembali dalam ingatannya. Oh.. Ini seperti hari itu. Perempuan di hadapanku marah dengan ketus dan menuduhku stalker. De ja vu. “Ke… Kenapa kamu senyum senyum sendiri? Apa kamu normal?” ucapnya lagi dengan nada geram. “Laki laki brengsk ada saja dimana mana.” Ia membalikkan tubuhnya hendak bergerak pergi. Namun Lingga menarik tangan perempuan itu dengan cepat hingga badan mereka beradu. “I’m sorry…” ujarnya pelan. “Aku bukan lelaki brengsk. Dan aku juga bukan stalker.” Perempuan di hadapannya terdiam. Ia mendadak saja terkesima dengan ketampanan lelaki di hadapannya. Bahkan topeng tidak sanggup menutupi pesonanya. “Stalker?” desahnya. “Apa kamu laki laki yang pernah menguntitku…?” Lingga merasakan jantungnya berdebar kencang. Perempuan ini pernah dikuntit? Apa dia… Wajah mereka yang terhalang topeng saling bertatapan. Lagi lagi, perempuan bergaun merah ini mengenakan topeng moretta. Lingga bisa melihat bibir mungilnya mengintip dari balik topeng. Oh.. Bibirnya… Mirip seperti perempuan pertama. Bahkan warna lipstiknya.. Sama… Apa dia orang yang sama dan berpura pura tidak mengenaliku? Atau… Kebetulan mirip? Satu satunya cara, aku harus melakukannya.. Lagi… Dan lagi.. Dan lagi… Lingga mendekat dan menundukkan kepalanya. Ia memagut bibir perempuan di hadapannya. Ciuman itu kembali terjadi. Three kisses in one night. Three women and one man.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD