Perempuan di hadapannya melotot. Ia memukul kepala Lingga dengan kipas di tangannya, lalu mendorong tubuhnya.
“You are worst than stalker… Tidak sopan,” teriaknya. “Kamu layak mendapatkan pukulanku. Tidak hanya dengan kipas ini, tapi mungkin lebih…
“Kurangajar.”
Lingga menahan tawanya mendengar ucapan perempuan di hadapannya itu.
“Ada yang lucu?” ujarnya kesal. Kipasnya kembali bergerak memukul bahu Lingga. “Jangan membuatku tambah marah.”
“So… Sorry,” Lingga menggaruk rambutnya. “Truly, sorry.”
Ia merasa lucu bukan karena kemarahan perempuan itu, tapi karena kelakuannya sendiri. Lingga menertawakan dirinya sendiri sebetulnya.
Ada apa denganku? Dalam semalam mencium tiga orang perempuan.
Too crazy to be true.
“Sorry is never enough…” perempuan itu bicara dengan nada tinggi. “Andai ini bukan acara amal, aku mungkin akan menghubungi polisi. Kamu layak berada di balik jeruji besi…
“Tapi aku akan menahan diri agar tidak menimbulkan skandal di acara penting ini.
“Lelaki sepertimu tidak boleh bebas berkeliaran.
“Jangan pernah muncul lagi di hadapanku.”
Lingga terhenyak mendengar ucapannya.
Ini seperti mengulang kejadian tujuh tahun silam.
Sikapnya, kata katanya, semua mirip gadis halte bi situ.
Aku bingung. Sungguh bingung.
Apa semua ini halusinasi?
Ada tiga orang perempuan, dan dalam bayanganku, ketiganya adalah dia. Gadis halte bis dari tujuh tahun lalu.
Ini impossible…
Gadis itu hanya satu orang dan tidak mungkin membagi diri menjadi tiga.
“Kamu lelaki aneh. Crazy,” ucap perempuan itu dengan ketus sambil membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Lingga hanya berdiri mematung menatap kepergiannya. Ia mencoba mengingat ketiga perempuan tersebut.
Semuanya bergaun merah. Artinya, bisa jadi mereka bertiga adalah perempuan yang diinformasikan ayahnya.
Dan, kenapa bisa tiga orang itu memiliki kemiripan dengan gadis halte bis dari tujuh tahun lalu?
Apa aku yang mulai tidak normal? Apa wine tadi mengandung sesuatu?
Lingga memutuskan untuk menghirup udara segar dan berjalan ke taman. Ia duduk di sebuah bangku kayu. Topeng yang dikenakannya membuat gerah, tapi ia tidak mau melepaskannya dan mengambil resiko tamu undangan mengenalinya.
Setidaknya angin malam membuatku tidak segerah tadi.
What a night.
What a crazy night.
Lingga kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Cakra Atmaja.
Cakra : “Halo. Apa pertemuanmu lancar?”
Lingga tergelak.
Lingga : “Sangat lancar. I kissed them all…”
Cakra : “Siapa yang kamu maksud?”
Lingga : “Semua gadis bergaun merah, aku mencium mereka semua.”
Cakra hanya tersenyum.
Lingga Mahapraja memang memiliki kemampuan menggoda perempuan manapun. Tapi, aku juga tidak menyangka bisa ‘sehebat’ itu.
Lingga : “Tapi sayangnya, aku tidak tahu who’s who…”
Cakra : “Maksudnya?”
Lingga : “Aku tidak tahu siapa yang bernama Larasati, Lanaya atau Lituhayu.”
Cakra : “Kamu tidak berkenalan?”
Lingga : “Ketiganya malah marah kepadaku.”
Cakra : “Apa yang terjadi?”
Lingga tertawa.
Lingga : “Sudahlah, panjang ceritanya.”
Lingga : “Om saya menelepon karena membutuhkan bantuan.”
Cakra : “Apa?”
Lingga : “Petunjuk mengenai ketiga perempuan yang seharusnya saya temui itu, katanya, mengenakan gaun merah. Tapi, apakah hanya tiga orang yang mengenakannya, atau lebih dari itu?”
Lingga : “Mengingat saya tidak sempat berkenalan, jadi saya… Butuh bantuan.“
Cakra : “Apa yang kamu butuhkan?”
Lingga : “Saya butuh data tamu.”
Lingga : “Bukan soal nama semata, tapi juga rekaman cctv. Saya perlu melihat setiap tamu yang keluar masuk.”
Lingga : “Ada cctv di area pintu masuk. Jadi aku pikir, bisa memastikan saat bisa melihat rekaman tersebut.”
Cakra : “Rekaman nanti dikirimkan.”
Lingga : “Baguslah. Saya tunggu.”
Ia menutup ponselnya sambil terdiam memperhatikan seisi taman.
Hhh… Ini waktunya aku pulang.
>>>
Pagi hari tiba.
Lingga hanya diam berbaring di atas ranjangnya. Ingatannya kembali pada kejadian semalam.
Ia mengusap bibirnya dan mencoba mengingat ciuman demi ciuman bersama perempuan bergaun merah. Senyum tersungging di wajahnya.
Siapa kalian? Number one or two or three? First, second or third?
Aku bingung. Kenapa kalian begitu mirip dengan gadis halte bis itu?
Apa kamu salah satu dari perempuan bergaun merah semalam?
Lingga bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah ke arah meja kecil di dekat jendela. Ia mengambil air mineral yang tersedia di atasnya lalu menenggaknya hingga setengah habis.
Tok, tok, tok.
“Ya,” Lingga menoleh ke arah pintu.
Saat terbuka, sosok Laksmi melangkah masuk dengan senyum lebar di wajahnya.
“Bagaimana semalam?” ucapnya tanpa basa basi.
Lingga menggelengkan kepalanya, “Apa ibu ikut terlibat? Ini bukan rencana ayah?”
Laksmi tertawa, “Di balik laki laki hebat, ada perempuan yang lebih hebat di belakangnya.”
Lingga ikut tertawa.
“Ayo cerita. Siapa yang kamu suka? Ada yang membuatmu tertarik?” Laksmi penasaran.
“Aku sudah tiga puluh lima tahun. Jangan bersikap seperti aku anak kecil,” Lingga menolak bercerita.
“Ibu hanya ingin tahu, apa ada yang membuatmu tertarik atau tidak?” Laksmi memaksa.
Lingga tergelak, “I kissed them. Apa ibu puas dengan jawabanku?”
Laksmi membelalak, “Them? Apa maksudmu? Them? Bukan her?”
“Aku mencium mereka. All of them.. Mereka bertiga,” ucap Lingga lagi.
“Kamu gila,” Laksmi mengambil bantal kursi dan memukul mukulkannya pada sang putra.
“Segila ide ibu. Like mother, like son,” gelak Lingga.
“Kamu jangan macam macam pada anak perempuan orang,” Laksmi melotot.
Lingga tertawa, “Itu hanya ciuman. Tidak berarti aku melakukan lebih dari itu. Selain itu, mereka perempuan dewasa yang cukup tahu untuk menolak atau menerima.”
Laksmi menarik nafas panjang, “Jadi? Siapa yang kamu suka?”
Lingga mengangkat bahunya, “Entah…”
“Jangan aneh aneh. Kamu sudah mencium mereka. Setidaknya pilih satu dari tiga orang itu,” Laksmi mulai merasa kesal pada putra semata wayangnya itu.
“Apa aku harus memilih salah satu dari mereka bertiga? Bagaimana kalau ada perempuan lain?” ucap Lingga.
“Perempuan lain? Kamu memikirkan perempuan lain saat mencium mereka?” Laksmi melotot.
Lingga menatap ibunya dan memutuskan untuk berterus terang.
“Ibu, tujuh tahun lalu, ada seorang gadis cantik di halte bis. Aku menyukainya… Cuma dia,” terang Lingga.
“Gadis cantik itu, istriku di masa depan.”