Jelita membuka matanya. Ia terbangun dengan perasaan tidak enak. Dadanya terasa sesak. Bahkan air mata menetes dari pelupuknya. "Oh... Aku kangen..." Jelita terisak. Tangannya bergerak mengelus perutnya, "Maafkan ibu menangis sayang. Ibu hanya rindu ayahmu." Jelita lalu duduk di samping tempat tidur. Ia bermimpi... Soal Banyu. Mantan suaminya itu kembali hadir meski dalam ilusinya, dan rasanya membahagiakan. Tapi ternyata, itu semua hanyalah alam bawah sadarnya semata. Ia menghapus air matanya. Tok, tok, tok. Pintu kamarnya terbuka. "Hai," Ganika masuk ke dalam kamarnya. "Aku mau pergi dulu." "Euh, jam berapa ini? Apa aku bangun kesiangan?" tanya Jelita. "Jam setengah tujuh," Ganika tergelak. "Aku tidak tega membangunkanmu." "Oh... Kamu mau kemana?" Jelita berta

