Bab 21

1074 Words

Pagi datang dengan cahaya matahari yang lembut menembus tirai. Naura terbangun perlahan, tubuhnya terasa berat — bukan karena kurang tidur, tapi karena pikirannya tak berhenti semalaman. Ia duduk di tepi ranjang, menatap sekitar. Kamar itu begitu rapi, terlalu rapi, seakan setiap sudut diatur untuk tidak menunjukkan jejak kehidupan. Di meja rias, vas berisi bunga mawar putih segar. Naura tidak ingat kapan bunga itu diletakkan di sana. Ia menyentuh kelopaknya perlahan, dingin, seperti udara di ruangan itu. Ia menatap pantulan dirinya di cermin — mata sedikit bengkak, rambut acak-acakan, dan lingkar hitam samar di bawah mata. “Ini bukan hidupku,” gumamnya lirih. Tapi bayangan di cermin menatap balik, seolah mengingatkannya: Sekarang memang hidupmu, Naura. Kamu yang memilih. Ia menari

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD