Malam turun perlahan di rumah besar itu. Lampu-lampu taman menyala lembut, memantulkan cahaya ke jendela ruang kerja di lantai dua. Dari luar, rumah itu tampak seperti istana kecil — megah, tenang, tapi menyimpan aura dingin yang tidak bisa dijelaskan. Naura berdiri di balkon kamarnya, menatap ke halaman di bawah. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah dan rumput basah setelah disiram sprinkler otomatis. Rambutnya tertiup halus, sebagian menutupi wajah. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha menahan rasa asing yang semakin pekat. Sejak siang tadi, Ethan hampir tidak bicara lagi dengannya. Setelah makan malam yang singkat dan formal, pria itu menghilang ke ruang kerjanya. Tapi setiap kali langkahnya terdengar dari lantai bawah, Naura bisa mengenalinya tanpa harus melihat. Suara

