Kamar itu sunyi. Lampu gantung yang redup memantulkan cahaya lembut di dinding berwarna krem, tapi bagi Naura, ruangan itu terasa seperti penjara yang luas dan mahal. Ia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan pakaian yang sama saat dari rumah sakit. Tangannya menggenggam gelas air yang sejak tadi tidak diminum. Napasnya berat. Semua kata-kata Ethan terus bergema di kepala. "Kalau kamu nggak bisa jujur ke aku, paling nggak jujur sama dirimu sendiri." Naura mendesah, menunduk, lalu menatap cincin tipis di jarinya — tanda pernikahan yang ia sendiri masih sulit percaya pernah terjadi. Ia ingin menenangkan diri, tapi perasaan bersalah yang menumpuk membuat pikirannya berantakan. Ethan memang tidak membentaknya, tidak juga menyentuhnya. Tapi tekanan dari tatapan dan kalimat-kalimat dingi

