Keesokan paginya, sinar matahari menembus tirai tebal kamar. Naura terbangun lebih awal, matanya masih berat karena tidur tak nyenyak. Ia menatap sekeliling kamar luas itu—ruangan yang masih asing baginya meski sudah beberapa hari ia tempati. Semua terlihat sempurna: furnitur mahal, perabot berwarna netral, aroma lembut dari diffuser di pojok ruangan. Tapi baginya, tak ada satu pun yang terasa seperti rumah. Ia beranjak ke kamar mandi, membasuh wajah dengan air dingin, lalu berdiri di depan cermin. Tatapan di balik pantulan kaca membuatnya sesaat terdiam. Matanya tampak lelah, lingkar hitam di bawahnya jelas. Ia menarik napas panjang, mencoba menguatkan diri. Hari ini, ia akan kembali menjenguk ibunya—dengan seseorang yang sama sekali tidak ia harapkan untuk ikut. Sekitar pukul delapan,

