Hari itu langit mendung, seolah tahu apa yang akan terjadi bukanlah kisah cinta, melainkan kesepakatan sunyi yang lahir dari keputusasaan. Naura berdiri di depan cermin kamar kecil di apartemennya. Wajahnya terlihat pucat, tapi riasan tipis yang ia kenakan berhasil menyamarkannya. Gaun putih sederhana yang disiapkan oleh asisten Ethan membuatnya terlihat seperti pengantin sungguhan—padahal di dalam hati, ia hanya merasa seperti pemeran figuran dalam sandiwara orang kaya. Ponselnya bergetar di meja. Nama “Aditya” muncul di layar. Naura menatapnya lama, tapi tidak menjawab. Ia tahu, sekali saja ia mendengar suara Aditya, semua keberaniannya akan runtuh. Jadi ia biarkan panggilan itu berhenti sendiri. Tak lama kemudian, pesan masuk. > “Aku di depan rumah sakit. Ibu kamu udah dibawa k

