Malam turun perlahan di langit kota. Dari lantai dua puluh tujuh apartemen mewah itu, lampu-lampu jalanan tampak seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Naura berdiri di depan jendela besar ruang tamu, menatap pemandangan yang seharusnya indah—tapi terasa kosong. Apartemen itu terlalu besar untuk dua orang. Dinding putihnya bersih sempurna, perabotnya mahal, aromanya seperti hotel bintang lima. Tidak ada kesan “rumah” di sana. Semuanya steril, rapi, dan terlalu sunyi. Di meja makan, ada dua cangkir kopi yang sudah dingin. Ethan duduk dengan jas yang belum dilepas, membuka laptop sambil menatap layar penuh dokumen. Suara keyboard menjadi satu-satunya bunyi di ruangan itu. Naura berdiri kaku. Ia ingin bicara sesuatu, tapi entah kenapa, setiap kali menatap pria itu, lidahnya terasa ber

