Aziel menyenderkan badannya di sofa, tangannya melipat di depan d**a dan matanya menatap lekat Jovanka yang berdiri gelisah di depannya. “Tanda tangan.” Gadis dengan rambut yang ujungnya terbakar itu manyun. “Harus banget, ya?” “Lo pikir?” tanya Aziel sambil mengangkat sebelah alisnya. “Gue udah minta maaf. Gue juga mau ganti yang rusak.” “Itu tanggung jawab lo. Sekarang tinggal hukuman.” Wajah Jovanka seketika memelas. Hari ini adalah hari terakhirnya menjadi babu. Dia sudah hampir sujud syukur saat pergi ke rumah Aziel sepulang sekolah tadi. Siapa sangka, bahwa bakat terpendamnya dalam memasak akan membawa Jovanka ke dalam situasi seperti ini. “Cepetan. Kalau nggak, gue tambah hukumannya.” Panik ketika Aziel menyeringai sambil menarik secarik kertas dari atas meja, Jovanka buru-
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


