Hm. Mencurigakan. Seharusnya, mau separah apa pun demamnya, Aziel hanya sakit karena syok dan kecapekan. Bukan tipes, bukan demam berdarah. Terus kenapa dia belum sembuh juga? Jovanka memperhatikan gerak-gerik Aziel yang sedang terbaring di kasur. Cowok itu sedang bermain ponsel, tanpa menghiraukan Jovanka yang susah payah mengepel lantai kamarnya. Tadi begitu datang, Aziel langsung minta Jovanka memasak makanan untuknya. Dih, ogah. Namun, Jovanka tidak bisa menolak. Status babunya masih melekat. “Makan ini aja dulu. Nanti malam baru gue masakin.” Sebungkus baso ikan diletakkan di meja, membuat Aziel mengernyit. “Gak mau. Baunya amis.” “Hilih. Biasa mulut lo bau amis juga. udah jangan rewel, cepet makan!” Mau tidak mau Aziel akhirnya menurut. Wih, enak juga ternyata. Aziel me

